MENGOPTIMALKAN KEKUATAN IMAN
Penulis : Winda Kustiawan, MA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ,
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا
وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Allahu
Akbar Allahu Akbar
MUKADDIMAH
Segala
puji kepada Allah SWT yang tetap memuliakan kita sebagai manusia biasa dengan
penuh keterbatasan dan kelemahan kita yang ada. Namun tidak henti-hentinya
Allah tetap memberikan nikmat-Nya kepada kita semua, meskipun manusia yang
telah diberikan nikmat tidak bersyukur kepada-Nya akan tetapi Allah tetap
memberikan nikmat-Nya. Inilah yang akan membedakan antara orang yang beriman
dan orang yang kufur kepada Allah. Orang yang beriman akan bersyukur kepada
Allah dengan berupaya mendekatkan diri melaksanakan segala perintah dan
meninggalkan larangan-Nya. Namun orang yang kufur terhadap nikmat Allah tidak
akan pernah merasa cukup dan bahkan cenderung meninggalkan perintah Allah,
malah lebih dekat dengan menjalankan apa yang dilarang Allah. Semoga kita
termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat Allah.
لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
Artinya :
“Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim : 7).
Salawat dan salam
semoga tetap tercurah kepada nabi Muhammad SAW, sebagai panutan umat dan contoh
terbaik dalam setiap aspek kehidupan manusia, terutama dalam setiap kehidupan
umat muslim dan generasi muda muslim.
Allahu
Akbar Allahu Akbar
KEMENANGAN
YANG DIRAIH
Babak baru telah
dimulai dengan merayakan kemenangan atas orang beriman setelah satu bulan penuh
menjalankan beberapa rangkaian ibadah ramadan, yaitu puasa, shalat, sedakah,
zakat dan aktifitas sosial lainnya. Kewajiban ini diseru kepada umat muslim
yang beriman kepada Allah, dapat dilihat surat albaqarah ayat 183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Ini menunjukkan bahwa
ramadhan telah memberikan bekal yang sangat luar biasa dalam pembentukan iman
kita, terutama untuk menjalani aktifitas sebelas bulan mendatang, yang pada
akhirnya kita dapat menemui ramadan kembali. Namun disisi lain banyak dari kita
terjerumus kembali kepada lembah kehinaan setelah Allah memberikan hidayah
iman-Nya. Seperti kemaksiatan dilokoni kembali, perzinahan, korupsi, mencuri,
menggunjing orang lain, berkelahi, menghibah, memfitnah dan lainnya yang
mengandung kezaliman di permukaan dunia ini kembali dalam diri kita. Maka
sebenarnya ramadan harus memberikan proteksi yang baik untuk melindungi diri
kita dari kebatilan dan kemaksiatan yang akan terjadi.
Hampir setiap rangkaian
ibadah yang kita kerjakan pada bulan ramadan, selalu mengharapkan bimbingan dan
petunjuk Allah, agar hati dan iman selalu tetap terjaga dengan baik, sehingga
dapat terhindar dari hal-hal yang mengandung kesesatan dan kenistaan. Dan
hampir setiap selesai ibadah shalat inilah yang kita mohonkan pada-Nya dalam
rangkaian doa.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya : (Mereka berdoa). “Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri
petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau;
karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali- Imran : 8).
Allahu
Akbar Allahu Akbar
Apabila kita perhatikan
ayat ini dapat kita ambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa ternyata
kebanyakan dari manusia akan cenderung kembali kepada kesesatan dan kehinaan
setelah Allah memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya. Agar manusia tetap dalam
petunjuk dan rahmat-Nya, untuk itu manusia harus kembali kepada Allah. Namun
apabila kita jauh dari Allah setelah petunjuk itu datang maka kesesatan itu
akan masuk kembali dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, meskipun ramadan telah
meninggalkan kita dan sudah membekali kehidupan ini dengan iman, petunjuk dan
rahmat Allah, jangan sampai kita tergelincir kembali dilembah kehinaan. Maka
imam Syafi’i mengingatkan kepada kita untuk menjaga kestabilan iman harus
menjaga konsisten berikut ini yaitu :
Pertama
Membangun segala aspek kehidupan dengan Niat dan keikhlasan
Niat
yang tulus, lahir dari dalam diri hamba Allah, karena dengan niat yang tulus
ini merupakan bentuk kepasrahan diri kepada Allah. Yakin bahwa Allah tempat
bertumpuh segala hal yang mengatur segala kehidupan manusia di dunia terlebih
akhirat. Jadi dengan
niat tulus merupakan bahagian terpenting dalam melaksanakan segala aktivitas
kehidupan, sehingga apa yang kita tanam dapat menuai hasil yang baik. Dan
membangun nilai ikhlas dalam diri setiap segala perbuatan baik dunia terlebih
akhirat yang bersentuhan terhadap nilai ibadah kepada Allah, selain niat yang
baik juga menanamkan sikap keikhlasan. Karena keikhlasan merupakan salah satu
syarat diterimanya suatu amal ibadah (lihat QS. Al-An’am 162).
قُلْ إِنَّ
صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya :
“Katakanlah:
sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam.”
Sikap ikhlas tidak akan lahir pada
diri manusia apabila masih memiliki sikap masih senang dipuji, disanjung oleh
orang lain dan masih mengharapkan balasan dari manusia. Maka kebaikan yang
telah kita lakukan berupa sedekah dan pemberian pada bulan ramadan jangan
pernah dingat dan bahkan di ungkit-ungkit kembali, serta jangan mengharap
pujian, sanjungan oleh orang lain dan meminta imbalan dari manusia yang telah
di bantu. Semangat ini juga harus mewabah dalam kehidupan kita sebelas bulan
mendatang, untuk tatap membantu terhadap sesama. Dan yang terpenting adalah
mampu menjalankan dengan sikap ikhlas semata-mata atas patuh dan taat kepada
Allah. Perhatikan firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ
وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ
فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا
كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin
yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu
menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari
apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang kafir.(QS. Albaqarah : 264)”.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Kedua Membangun Rasa Syukur Terhadap Nikmat
Allah
Karena dengan kita selalu bersyukur kepada-Nya akan
membawa manfaat terhadap diri sendiri. Hal ini pernah dikisahkan dalam
keteladanan Luqman yang selalu bersyukur kepada Allah setiap hidupnya.
Perhatikan firman Allah “Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada
Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang
bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.(QS. Luqman :
12)”. Terkadang dalam kehidupan ini banyak manusia tergelincir imannya disebabkan
karena jarang sekali bersyukur kepada Allah. Padahal begitu banyak nikmat yang
Allah anugerahkan kepada kita, seperti
kesehatan yang tidak ternilai harganya, jarang kita syukuri untuk diikut
sertakan untuk ruku dan sujud pada-Nya. Kemudian disaat nikmat harta diberikan
kepada kita, juga jarang untuk dibelanjakan dijalan Allah, padahal harta itu
sebuah titipan. Begitu juga jabatan dan kekuasaan yang di anugerahkan kepada
kita, juga terkadang kita sia-siakan dengan kita berbuat jalim dan tidak adil
serta bersikap korup mengambil uang negara dengan semena-mena dan mengambil hak
orang-orang miskin yang lebih membutuhkan uang tersebut, padahal jabatan itu
adalah amanah Allah. Namun hal yang paling terpenting dari setiap kehidupan ini
kita harus mampu menjadi orang yang bersyukur, niscaya sekecil apapun nikmat
yang Allah berikan akan menjadi berkah dan bermanfaat baik dan bahkan Allah
akan menambah nikmat tersebut, hal ini dapat dilihat dalam surat Ibrahim ayat 7.
لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
Artinya : “Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim : 7).
Allahu Akbar Allahu Akbar
RAMADAN, KAMI PASTI MERINDUKANMU
Siapapun manusianya di dunia ini
pasti akan merindukan kembali ramadan hadir dalam kehidupan ini. Bahkan hati yang paling
dalam ini ingin mengatakan kalaulah bisa hari-hari kehidupan kita harus
ramadan, dalam sebuah hadis nabi mengatakan “Sungguh apabila umatku
mengetahui luarbiasanya keutamaan dari ramadan, maka mereka akan menginginkan
sepanjang waktu dalam hidupnya ramadan”. Namun itulah indahnya Islam
sebagai agama RAHMATAN LIL’ALAMIN yaitu membawa rahmat untuk seluruh
kehidupan alam semesta ini membawa adil dan kedamaian. Tapi sebagai manusia
biasa hati ini tidak bisa menahan sedih dan kedua belah mata ini tidak dapat
menahan tangis tatkala ramadan meninggalkan kita. Maka rasulullah menganjurkan
kepada kita agar untuk bermohon dengan berdoa terjadap perlindungan, petunjuk
dan dan hidayah.
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Allahumma inni as-alukal huda wat
tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta
pada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan kecukupan kepada-Mu. (HR.
Muslim no. 2721)
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Allahumma
inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’’ (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal
dan hawa nafsu yang mungkar).” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih).
Kita berharap dengan doa yang kita
panjatkan kehadirat Robbi ini dapat menjadikan kekuatan yang mendalam dalam
membangun kekuatan iman kita di masa yang akan datang, sehingga kita dapat
menemui ramadan kembali dengan suka cita, penuh keyakinan dan ketenangan baik
itu jiwa dan ruhaniah. Maka amal salih yang kita kerjakan pada bulan ramadan
seperti shalat harus tetap kita jaga dengan baik. Dengan shalat yang kita
kerjakan akan melindungi kita dari perbuatan yang di murkai Allah. Sebagaimana
firman Allah sebagai berikut :
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan)
kejidan mungkar (QS.
Al-Ankabut : 45).
Begitu
juga sedakah dan zakat yang kita kerjakan dibulan ramadan mampu merefleksi
hidup kita untuk peduli terhadap kesulitan sesama. Selain itu ibadah puasa yang
kita kerjakan dapat menjaga dan menahan amarah kita. Sehingga Allah akan
memuliakan kita sebagai manusia dipermukaan dunia ini sebagai manusia yang
bertaqwa.
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَوَتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang menafkahkan (hartanya),
baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran :
133-134).
PENUTUP
Selain untuk tetap
memperkokoh ibadah shalat, sedekah, zakat dan menahan amarah selapas ramadan,
maka hal yang tidak kalah penting adalah memaafkan kesalahan manusia. Untuk itu
marilah dihari yang bahagia ini yaitu bulan yang penuh dengan kesucian dan
peningkatan iman dan ibadah untuk saling memaafkan atas kesalahan yang pernah
terjadi. Karena saling memaafkan adalah termasuk ciri orang yang bertakwa, dan
orang yang bertakwa akan dibalas Allah dengan surga. Semoga kita semua yang
telah melaksanakan seluruh rangkaian ramadan tahun ini adalah golongan orang
yang bertakwa disisi-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Billahi Fii sabililhaq Fastabiqul Khairat
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb
(Disampaikan
pada Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H 28 Juli 2014 M di Medan, Penulis adalah
Wakil Ketua I Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara
Periode 2010-2015 dan sebagai Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN
Sumatera Utara-Medan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar