Selasa, 15 Juli 2014

KHUTBAH ID FITRI 1435 H Masjid Taqwa Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tanjung Rejo, Pimpinan Cabang Medan Baru

MENGOPTIMALKAN KEKUATAN IMAN
Penulis : Winda Kustiawan, MA




إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Allahu Akbar Allahu Akbar
MUKADDIMAH
            Segala puji kepada Allah SWT yang tetap memuliakan kita sebagai manusia biasa dengan penuh keterbatasan dan kelemahan kita yang ada. Namun tidak henti-hentinya Allah tetap memberikan nikmat-Nya kepada kita semua, meskipun manusia yang telah diberikan nikmat tidak bersyukur kepada-Nya akan tetapi Allah tetap memberikan nikmat-Nya. Inilah yang akan membedakan antara orang yang beriman dan orang yang kufur kepada Allah. Orang yang beriman akan bersyukur kepada Allah dengan berupaya mendekatkan diri melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Namun orang yang kufur terhadap nikmat Allah tidak akan pernah merasa cukup dan bahkan cenderung meninggalkan perintah Allah, malah lebih dekat dengan menjalankan apa yang dilarang Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat Allah.
 لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 
Artinya :
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim : 7).
Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada nabi Muhammad SAW, sebagai panutan umat dan contoh terbaik dalam setiap aspek kehidupan manusia, terutama dalam setiap kehidupan umat muslim dan generasi muda muslim.

Allahu Akbar Allahu Akbar
KEMENANGAN YANG DIRAIH
Babak baru telah dimulai dengan merayakan kemenangan atas orang beriman setelah satu bulan penuh menjalankan beberapa rangkaian ibadah ramadan, yaitu puasa, shalat, sedakah, zakat dan aktifitas sosial lainnya. Kewajiban ini diseru kepada umat muslim yang beriman kepada Allah, dapat dilihat surat albaqarah ayat 183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Ini menunjukkan bahwa ramadhan telah memberikan bekal yang sangat luar biasa dalam pembentukan iman kita, terutama untuk menjalani aktifitas sebelas bulan mendatang, yang pada akhirnya kita dapat menemui ramadan kembali. Namun disisi lain banyak dari kita terjerumus kembali kepada lembah kehinaan setelah Allah memberikan hidayah iman-Nya. Seperti kemaksiatan dilokoni kembali, perzinahan, korupsi, mencuri, menggunjing orang lain, berkelahi, menghibah, memfitnah dan lainnya yang mengandung kezaliman di permukaan dunia ini kembali dalam diri kita. Maka sebenarnya ramadan harus memberikan proteksi yang baik untuk melindungi diri kita dari kebatilan dan kemaksiatan yang akan terjadi.
Hampir setiap rangkaian ibadah yang kita kerjakan pada bulan ramadan, selalu mengharapkan bimbingan dan petunjuk Allah, agar hati dan iman selalu tetap terjaga dengan baik, sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang mengandung kesesatan dan kenistaan. Dan hampir setiap selesai ibadah shalat inilah yang kita mohonkan pada-Nya dalam rangkaian doa.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya : (Mereka berdoa). “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali- Imran : 8).
Allahu Akbar Allahu Akbar
Apabila kita perhatikan ayat ini dapat kita ambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa ternyata kebanyakan dari manusia akan cenderung kembali kepada kesesatan dan kehinaan setelah Allah memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya. Agar manusia tetap dalam petunjuk dan rahmat-Nya, untuk itu manusia harus kembali kepada Allah. Namun apabila kita jauh dari Allah setelah petunjuk itu datang maka kesesatan itu akan masuk kembali dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, meskipun ramadan telah meninggalkan kita dan sudah membekali kehidupan ini dengan iman, petunjuk dan rahmat Allah, jangan sampai kita tergelincir kembali dilembah kehinaan. Maka imam Syafi’i mengingatkan kepada kita untuk menjaga kestabilan iman harus menjaga konsisten berikut ini yaitu :
Pertama Membangun segala aspek kehidupan dengan Niat dan keikhlasan
            Niat yang tulus, lahir dari dalam diri hamba Allah, karena dengan niat yang tulus ini merupakan bentuk kepasrahan diri kepada Allah. Yakin bahwa Allah tempat bertumpuh segala hal yang mengatur segala kehidupan manusia di dunia terlebih akhirat. Jadi dengan niat tulus merupakan bahagian terpenting dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupan, sehingga apa yang kita tanam dapat menuai hasil yang baik. Dan membangun nilai ikhlas dalam diri setiap segala perbuatan baik dunia terlebih akhirat yang bersentuhan terhadap nilai ibadah kepada Allah, selain niat yang baik juga menanamkan sikap keikhlasan. Karena keikhlasan merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amal ibadah (lihat QS. Al-An’am 162).
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya :
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Sikap ikhlas tidak akan lahir pada diri manusia apabila masih memiliki sikap masih senang dipuji, disanjung oleh orang lain dan masih mengharapkan balasan dari manusia. Maka kebaikan yang telah kita lakukan berupa sedekah dan pemberian pada bulan ramadan jangan pernah dingat dan bahkan di ungkit-ungkit kembali, serta jangan mengharap pujian, sanjungan oleh orang lain dan meminta imbalan dari manusia yang telah di bantu. Semangat ini juga harus mewabah dalam kehidupan kita sebelas bulan mendatang, untuk tatap membantu terhadap sesama. Dan yang terpenting adalah mampu menjalankan dengan sikap ikhlas semata-mata atas patuh dan taat kepada Allah. Perhatikan firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. Albaqarah : 264)”.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Kedua Membangun Rasa Syukur Terhadap Nikmat Allah
            Karena dengan kita selalu bersyukur kepada-Nya akan membawa manfaat terhadap diri sendiri. Hal ini pernah dikisahkan dalam keteladanan Luqman yang selalu bersyukur kepada Allah setiap hidupnya. Perhatikan firman Allah Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka  sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.(QS. Luqman : 12)”. Terkadang dalam kehidupan ini banyak manusia tergelincir imannya disebabkan karena jarang sekali bersyukur kepada Allah. Padahal begitu banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita,  seperti kesehatan yang tidak ternilai harganya, jarang kita syukuri untuk diikut sertakan untuk ruku dan sujud pada-Nya. Kemudian disaat nikmat harta diberikan kepada kita, juga jarang untuk dibelanjakan dijalan Allah, padahal harta itu sebuah titipan. Begitu juga jabatan dan kekuasaan yang di anugerahkan kepada kita, juga terkadang kita sia-siakan dengan kita berbuat jalim dan tidak adil serta bersikap korup mengambil uang negara dengan semena-mena dan mengambil hak orang-orang miskin yang lebih membutuhkan uang tersebut, padahal jabatan itu adalah amanah Allah. Namun hal yang paling terpenting dari setiap kehidupan ini kita harus mampu menjadi orang yang bersyukur, niscaya sekecil apapun nikmat yang Allah berikan akan menjadi berkah dan bermanfaat baik dan bahkan Allah akan menambah nikmat tersebut, hal ini dapat dilihat dalam surat Ibrahim ayat 7.

 لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 

Artinya : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim : 7).

Allahu Akbar Allahu Akbar
RAMADAN, KAMI PASTI MERINDUKANMU
            Siapapun manusianya di dunia ini pasti akan merindukan kembali ramadan hadir  dalam kehidupan ini. Bahkan hati yang paling dalam ini ingin mengatakan kalaulah bisa hari-hari kehidupan kita harus ramadan, dalam sebuah hadis nabi mengatakan “Sungguh apabila umatku mengetahui luarbiasanya keutamaan dari ramadan, maka mereka akan menginginkan sepanjang waktu dalam hidupnya ramadan”. Namun itulah indahnya Islam sebagai agama RAHMATAN LIL’ALAMIN yaitu membawa rahmat untuk seluruh kehidupan alam semesta ini membawa adil dan kedamaian. Tapi sebagai manusia biasa hati ini tidak bisa menahan sedih dan kedua belah mata ini tidak dapat menahan tangis tatkala ramadan meninggalkan kita. Maka rasulullah menganjurkan kepada kita agar untuk bermohon dengan berdoa terjadap perlindungan, petunjuk dan dan hidayah.

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan kecukupan kepada-Mu. (HR. Muslim no. 2721)

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’’ (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar).” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih).
            Kita berharap dengan doa yang kita panjatkan kehadirat Robbi ini dapat menjadikan kekuatan yang mendalam dalam membangun kekuatan iman kita di masa yang akan datang, sehingga kita dapat menemui ramadan kembali dengan suka cita, penuh keyakinan dan ketenangan baik itu jiwa dan ruhaniah. Maka amal salih yang kita kerjakan pada bulan ramadan seperti shalat harus tetap kita jaga dengan baik. Dengan shalat yang kita kerjakan akan melindungi kita dari perbuatan yang di murkai Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut :
            إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) kejidan mungkar (QS. Al-Ankabut : 45).
Begitu juga sedakah dan zakat yang kita kerjakan dibulan ramadan mampu merefleksi hidup kita untuk peduli terhadap kesulitan sesama. Selain itu ibadah puasa yang kita kerjakan dapat menjaga dan menahan amarah kita. Sehingga Allah akan memuliakan kita sebagai manusia dipermukaan dunia ini sebagai manusia yang bertaqwa.
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَوَتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ 
Artinya : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran : 133-134).
PENUTUP    
Selain untuk tetap memperkokoh ibadah shalat, sedekah, zakat dan menahan amarah selapas ramadan, maka hal yang tidak kalah penting adalah memaafkan kesalahan manusia. Untuk itu marilah dihari yang bahagia ini yaitu bulan yang penuh dengan kesucian dan peningkatan iman dan ibadah untuk saling memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi. Karena saling memaafkan adalah termasuk ciri orang yang bertakwa, dan orang yang bertakwa akan dibalas Allah dengan surga. Semoga kita semua yang telah melaksanakan seluruh rangkaian ramadan tahun ini adalah golongan orang yang bertakwa disisi-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin. Billahi Fii sabililhaq Fastabiqul Khairat
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
(Disampaikan pada Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H 28 Juli 2014 M di Medan, Penulis adalah Wakil Ketua I Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara Periode 2010-2015 dan sebagai Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Sumatera Utara-Medan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar