Senin, 09 September 2013

JADILAH PEMIMPIN KEBANGGAAN UMAT

Penulis : Winda Kustiawan, S.Sos.I, MA
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73).
Pemimpin adalah manusia pilihan, yang diberikan amanah untuk menjalankan tugas melayani umat. Sebagai seorang pelayan umat semestinya memberikan yang terbaik kepada rakyatnya, bukan sebaliknya membiarkan umat menderita dan sengsara. Kerinduan umat kepada seorang figur pemimpin yang amanah, arif dan bijaksana telah lama dinanti. Namun sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah harus optimis, bahwa sosok pemimpin kebanggaan umat akan hadir dalam mengembalikan kejayaan islam. Banyak lahir pemimpin didunia ini, namun pemimpin seperti sosok Muhammad, Abu Bakar Siddik, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib (Khulafaurrasidah) sangatlah susah ditemui untuk era modern ini. Yang mampu membawa perubahan, pencerahan dan kebanggaan kepada umatnya. Dapat dilihat bagaimana kepemimpinan Muhammad yang mampu menyatukan kaum ansor dan muhajirin, dengan mendirikan negara islam yang modern dizamannya. Telah memberikan kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan kepada seluruh masyarakatnya dan bukan hanya janji semata namun bukti yang nyata. Kemudian sosok Abu Bakar yang mampu tetap berpegang teguh kepada syariat islam, walaupun banyak umat ketika itu murtad dan menentangnya. Disusul kembali dengan Umar bin Khattab sebagai sosok pemimpin yang tegas dan bijaksana, yang selalu melihat kebawah penderitaan umatnya, serta tidak mementingkan diri sendiridan keluarga. Selanjutnya Utsman bin Affan sebagai pemimpin yang menjaga eksistensinya dalam menjaga keutuhan dan penyatuan kalam Illahi (alquran). Dan Ali bin Abi Thalib sebagai sosok pemimpin yang energik yang mampu mengatasi konflik-konflik saudara.
Tanggal 7 Maret 2013 mendatang masyarakat sumatera utara akan menggelar pesta demokrasi lima tahunan, yaitu memilih pemimpin sumatera utara untuk lima tahun kedepan. Lima pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur sudah siap mengambil simpatik masyarakat sumatera utara dengan penyampaian visi dan misi untuk lima tahun kedepan, dan mereka siap akan menjalankan visi dan misi tersebut apabila terpilih nantinya. Untuk mengambil simpatik masyarakat masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur memiliki cara masing-masing. Dari mulai memberikan sembako, sarung, pakaian, bedah rumah, jalan-jalan kepasar tradisional, membuat acara seremonial dengan tokoh adat dan agama, dan masih banyak lagi. Yang lebih anehnya lagi diantara masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur sumatera utara melakukan pembusukan karakter yaitu saling mengungkapkan keburukan-keburukan, padahal belum tahu benar atau salah apa yang disampaikan hal tersebut kepada masyarakat umum, demi menaikkan atau demi mengambil hati masyarakat menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan islam. Islam mengajarkan tidak boleh saling menjelekkan atau pun memburukkan diatara saudaranya sendiri, dan tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain demi sebuah jabatan, karena hal ini sangat dibenci Allah SWT. Dapat dilihat firman Allah SWT sebagai berikut :  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS : 49 : 12). Bila cara-cara seperti ini masih dilakukan oleh calon-calon pemimpin kita, maka tidak ada lagi hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat terutama masyarakat sumatera utara kepada pemimpinnya, yang seharusnya bisa dijadikan panutan dan contoh yang baik. Terkadang tidak dapat dielakkan, dari sebuah fitnah dapat menimbulkan konflik, selisih paham, perpecahan dan bahkan perang diatara sesama saudara. Maka sebenarnya cara-cara seperti ini sebaiknya dijauhi dan jangan dialakukan, sehingga kedamaian dan ketentraman akan terwujud. Dan pada akhirnya kepercayaan masyarakat akan tumbuh pada masing-masing calon pemimpin, tidak lagi apatis.
Selama ini yang telah banyak dirasakan oleh masyarakat adalah kurangnya tingkat kepercayaan terhadap pemilihan-pemilihan pemimpin didaerah maupun tingkat pusat, setelah terpilih diharapkan dapat membawa perubahan dalam pengentasan kemiskinan, penganguran, kesejahteraan, pelayanan publik yang baik, kesehatan yang layak, pendidikan dan penanganan korupsi, tidak mampu diatasi dengan baik, malah semakin memperburuk keadaan dan bahkan menjadi pelaku korupsi yang baru. Maka disaat penyampaian visi dan isi janganlah terlalu banyak mengumbar janji kepada masyarakat. Tatkala janji-janji itu tidak dapat terwujud dengan baik atau bahkan tidak ditepati, sementara mengaku beriman,  Allah sangat membenci hal tersebut. Sesuai dengan  firman Allah SWT : Dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat (QS : 16 : 91). Janji merupakan ucapan yang harus dipertanggung jawabakan dengan baik, apalagi janji seorang pemimpin kepada masyarakatnya. Jangan hanya diwaktu kampanye saja mampu berucap dengan penuh semangat dan antusias, seolah-olah dialah pemimpin yang paling baik dan mampu membawa perubahan dibanding calon-calon yang lain. Namun setelah terpilih menjadi pemimpin melupakan janji-janji yang sudah diucapkan dahulu. Bahkan tatkala diingatkan malah seolah-olah tidak mau tau. Jadilah pemimpin yang mampu menjadi kebanggaan umat, sehingga masyarakat yakin dengan kepemimpinannya. Seperti kepemimpinan rasul dan para sahabat, sebut saja pemimpin Abu Bakar Siddik, tatkala menjadi seorang pemimpin pada pidato pertamanya yang berbunyi : Wahai manusia, aku telah diserahi kekuasaan untuk mengurus kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik dari kalian. untuk itu, jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku. jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya Allah. tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan zina menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka.Untuk itu, taatlah kalian kepadaku selama aku masih taat kepada Allah dan RasulNya. jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, maka bagi kalian tidak ada ketaatan kepadaku. dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”
Pemimpin yang baik itu bukan hanya sekedar baik dalam berucap, namun pemimpin yang baik itu adalah antara ucapan dan perbuatan itu sama. Dan mampu mengedepankan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi maupun golongan, serta mampu melihat penderitaan dan kesulitan rakyat. Seharusnya pemimpin-pemimpin saat ini banyak belajar dari sosok Ummar bin Khattab sebagai seorang pemimpin, ketika anaknya datang kepadanya, lantas Ummar mengatakan kepada anaknya “bila urusanmu menyangkut pribadi dan keluarga maka lampu ini kumatikan, namun bila urusanmu menyangkut tentang negara maka lampu ini harus tetap menyalah”. Anak Ummar berkata : “urusanku datang padamu wahai ayahku masalah pribadi dan keluarga”. Dengan sepontan Ummar bin Khattab mematikan lampunya, karena dia takut menyalah gunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau keluargannya. Bila hal ini dapat diadopsi oleh pemimpin-pemimpin kita hari ini pasti mereka akan menjadi kebanggaan umat. Bukan malah sebaliknya malah memanfaatkan jabatan yang dimiliki untuk kepentingan pribadi dan golongan saja. Kita semua pasti berharap dan sangat sekali mendambahkan pemimpin yang selalu memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Terutama memperhatikan dan mampu melayani masyarakat dengan baik, bukan hanya sebuah polesan semata, namun bukti yang nyata.
Kedepan pemimpin baru akan kita pilih, kita berharap pemimpin yang akan membawa kebaikan terhadap masyarakat lima tahun mendatang. Semua masyarakat sumatera utara pada umumnya menginginkan sosok pemimpin yang mampu menjadi teladan dan panutan. Sehingga menjadi kebanggaan umat dimasa-masa akan datang. Kita berharap akan hadir pemimpin baru yang berkualitas dalam menjaga keutuhan, persatuan, dan kesatuan umat. Demi terwujudnnya negara “Baldatun Thayyibatun Warrabun ghafur” yaitu negeri yang baik dan sejahtera. Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar