“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah
Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu
mengabdi.”(QS. Al-Anbiya’: 73).
Pemimpin adalah manusia pilihan, yang diberikan
amanah untuk menjalankan tugas melayani umat. Sebagai seorang pelayan umat semestinya
memberikan yang terbaik kepada rakyatnya, bukan sebaliknya membiarkan umat
menderita dan sengsara. Kerinduan umat kepada seorang figur pemimpin yang
amanah, arif dan bijaksana telah lama dinanti. Namun sebagai orang yang beriman
dan bertakwa kepada Allah harus optimis, bahwa sosok pemimpin kebanggaan umat
akan hadir dalam mengembalikan kejayaan islam. Banyak lahir pemimpin didunia
ini, namun pemimpin seperti sosok Muhammad, Abu Bakar Siddik, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib (Khulafaurrasidah)
sangatlah susah ditemui untuk era modern ini. Yang mampu membawa perubahan,
pencerahan dan kebanggaan kepada umatnya. Dapat dilihat bagaimana kepemimpinan
Muhammad yang mampu menyatukan kaum ansor dan muhajirin, dengan mendirikan
negara islam yang modern dizamannya. Telah memberikan kedamaian, kesejahteraan,
kemakmuran dan keadilan kepada seluruh masyarakatnya dan bukan hanya janji
semata namun bukti yang nyata. Kemudian sosok Abu Bakar yang mampu tetap
berpegang teguh kepada syariat islam, walaupun banyak umat ketika itu murtad
dan menentangnya. Disusul kembali dengan Umar bin Khattab sebagai sosok pemimpin
yang tegas dan bijaksana, yang selalu melihat kebawah penderitaan umatnya,
serta tidak mementingkan diri sendiridan keluarga. Selanjutnya Utsman bin Affan
sebagai pemimpin yang menjaga eksistensinya dalam menjaga keutuhan dan
penyatuan kalam Illahi (alquran). Dan
Ali bin Abi Thalib sebagai sosok pemimpin yang energik yang mampu mengatasi
konflik-konflik saudara.
Tanggal 7 Maret 2013 mendatang masyarakat sumatera
utara akan menggelar pesta demokrasi lima tahunan, yaitu memilih pemimpin
sumatera utara untuk lima tahun kedepan. Lima pasangan calon gubernur dan calon
wakil gubernur sudah siap mengambil simpatik masyarakat sumatera utara dengan
penyampaian visi dan misi untuk lima tahun kedepan, dan mereka siap akan
menjalankan visi dan misi tersebut apabila terpilih nantinya. Untuk mengambil
simpatik masyarakat masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil
gubernur memiliki cara masing-masing. Dari mulai memberikan sembako, sarung,
pakaian, bedah rumah, jalan-jalan kepasar tradisional, membuat acara seremonial
dengan tokoh adat dan agama, dan masih banyak lagi. Yang lebih anehnya lagi
diantara masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur
sumatera utara melakukan pembusukan karakter yaitu saling mengungkapkan
keburukan-keburukan, padahal belum tahu benar atau salah apa yang disampaikan
hal tersebut kepada masyarakat umum, demi menaikkan atau demi mengambil hati
masyarakat menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan islam. Islam
mengajarkan tidak boleh saling menjelekkan atau pun memburukkan diatara
saudaranya sendiri, dan tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain demi
sebuah jabatan, karena hal ini sangat dibenci Allah SWT. Dapat dilihat firman
Allah SWT sebagai berikut : “Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka
itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang.” (QS
: 49 : 12). Bila cara-cara seperti ini masih dilakukan oleh calon-calon
pemimpin kita, maka tidak ada lagi hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat
terutama masyarakat sumatera utara kepada pemimpinnya, yang seharusnya bisa
dijadikan panutan dan contoh yang baik. Terkadang tidak dapat dielakkan, dari
sebuah fitnah dapat menimbulkan konflik, selisih paham, perpecahan dan bahkan
perang diatara sesama saudara. Maka sebenarnya cara-cara seperti ini sebaiknya
dijauhi dan jangan dialakukan, sehingga kedamaian dan ketentraman akan terwujud.
Dan pada akhirnya kepercayaan masyarakat akan tumbuh pada masing-masing calon
pemimpin, tidak lagi apatis.
Selama ini yang telah banyak
dirasakan oleh masyarakat adalah kurangnya tingkat kepercayaan terhadap
pemilihan-pemilihan pemimpin didaerah maupun tingkat pusat, setelah terpilih
diharapkan dapat membawa perubahan dalam pengentasan kemiskinan, penganguran,
kesejahteraan, pelayanan publik yang baik, kesehatan yang layak, pendidikan dan
penanganan korupsi, tidak mampu diatasi dengan baik, malah semakin memperburuk
keadaan dan bahkan menjadi pelaku korupsi yang baru. Maka disaat penyampaian
visi dan isi janganlah terlalu banyak mengumbar janji kepada masyarakat.
Tatkala janji-janji itu tidak dapat terwujud dengan baik atau bahkan tidak
ditepati, sementara mengaku beriman, Allah
sangat membenci hal tersebut. Sesuai dengan
firman Allah SWT : Dan tepatilah
Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan
sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan
Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat (QS : 16 : 91). Janji merupakan ucapan
yang harus dipertanggung jawabakan dengan baik, apalagi janji seorang pemimpin
kepada masyarakatnya. Jangan hanya diwaktu kampanye saja mampu berucap dengan
penuh semangat dan antusias, seolah-olah dialah pemimpin yang paling baik dan
mampu membawa perubahan dibanding calon-calon yang lain. Namun setelah terpilih
menjadi pemimpin melupakan janji-janji yang sudah diucapkan dahulu. Bahkan
tatkala diingatkan malah seolah-olah tidak mau tau. Jadilah pemimpin yang mampu
menjadi kebanggaan umat, sehingga masyarakat yakin dengan kepemimpinannya.
Seperti kepemimpinan rasul dan para sahabat, sebut saja pemimpin Abu Bakar
Siddik, tatkala menjadi seorang pemimpin pada pidato pertamanya yang berbunyi :
“Wahai
manusia, aku telah diserahi kekuasaan untuk mengurus kalian, padahal aku
bukanlah orang terbaik dari kalian. untuk itu, jika aku melakukan kebaikan,
maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku. jujur itu
amanah, sedang dusta itu khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat
di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara
kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya
Allah. tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan
Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan zina
menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah
mereka.Untuk itu, taatlah kalian kepadaku selama aku masih taat kepada Allah
dan RasulNya. jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, maka bagi kalian
tidak ada ketaatan kepadaku. dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati
kalian.”
Pemimpin yang baik
itu bukan hanya sekedar baik dalam berucap, namun pemimpin yang baik itu adalah
antara ucapan dan perbuatan itu sama. Dan mampu mengedepankan kepentingan
masyarakat dibanding kepentingan pribadi maupun golongan, serta mampu melihat
penderitaan dan kesulitan rakyat. Seharusnya pemimpin-pemimpin saat ini banyak
belajar dari sosok Ummar bin Khattab sebagai seorang pemimpin, ketika anaknya
datang kepadanya, lantas Ummar mengatakan kepada anaknya “bila
urusanmu menyangkut pribadi dan keluarga maka lampu ini kumatikan, namun bila
urusanmu menyangkut tentang negara maka lampu ini harus tetap menyalah”. Anak Ummar berkata : “urusanku
datang padamu wahai ayahku masalah pribadi dan keluarga”. Dengan sepontan Ummar bin
Khattab mematikan lampunya, karena dia takut menyalah gunakan kekuasaannya
untuk kepentingan pribadi atau keluargannya. Bila hal ini dapat diadopsi oleh
pemimpin-pemimpin kita hari ini pasti mereka akan menjadi kebanggaan umat.
Bukan malah sebaliknya malah memanfaatkan jabatan yang dimiliki untuk kepentingan
pribadi dan golongan saja. Kita semua pasti berharap dan sangat sekali
mendambahkan pemimpin yang selalu memperhatikan rakyat yang dipimpinnya.
Terutama memperhatikan dan mampu melayani masyarakat dengan baik, bukan hanya
sebuah polesan semata, namun bukti yang nyata.
Kedepan pemimpin baru akan kita
pilih, kita berharap pemimpin yang akan membawa kebaikan terhadap masyarakat
lima tahun mendatang. Semua masyarakat sumatera utara pada umumnya menginginkan
sosok pemimpin yang mampu menjadi teladan dan panutan. Sehingga menjadi
kebanggaan umat dimasa-masa akan datang. Kita berharap akan hadir pemimpin baru
yang berkualitas dalam menjaga keutuhan, persatuan, dan kesatuan umat. Demi terwujudnnya
negara “Baldatun
Thayyibatun Warrabun ghafur” yaitu
negeri yang baik dan sejahtera. Wallahu’alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar