Senin, 13 Juli 2015

KHUTBAH ID FITRI 1 SYAWAL 1436 H Judul "REFLEKSI HIDUP DIHARI KEMENANGAN"


Penulis : Winda Kustiawan, MA
(Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Wakil Ketua I Majelis Dikdasmen PWM SU, email : k.winda@yahoo.com, windakustiawan@gmail.com )
Disampaikan dalam Pelaksanaan Shalat Id Fitri  1 Syawal 1436 H/ 17 Juli 2015, Di Lapangan Parkir Medan Plaza, di Selenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Medan Baru


 Assalamu’alaikum Wr, Wb
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الََّذِى وَسِعَ كُلََّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ،وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَـيَاأَيُّهَا النَّاس اتَّقُوا اللَّهَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَفْضَلَكُمْ بِالْفَضَائِلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنَ اْلأُمَّةِ المَأمُوْرَةِ بِصِلَةِ اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

MUKADDIMAH
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa menurunkan kemuliaan, kebaikan, kebahagiaan dan nikmat kepada kita semua, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas duniawi ini dengan baik, tanpa kasih dan sayang Allah SWT kita hanyalah mahluk yang lemah dan penuh dengan keterbatasan segala hal, oleh karena itu kita harus wajib mensyukuri nikmat ini dengan baik yaitu dengan cara tetap bertakaruf ilallah (mendekatkan diri semata kepada Allah) dengan amal-amal kebajikan di dunia ini.
            Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, semoga keteladanannya dapat kita contoh dalam sisi kehidupan ini, terutama kepada anak, cucu dan seluruh keturunan kita. Hanya beliaulah satu-satunya contoh manusia terbaik di dunia ini.
PENDAHULUAN
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
Gema takbir dan tahmid terdengar serta berkumandang hampir disetiap penjuru negeri ini, untuk mengagungkan asma Allah SWT. Ini menandakan bahwa orang-orang beriman telah menuntaskan perjuangannya melawan musuh yang sangat besar dan dahsyat yaitu menaklukkan hawa nafsu selama satu bulan. Ramadhan telah memberikan pelajaran yang sangat luar biasa bagi kita semua yaitu menjalankan ibadah puasa dengan menahan (imsyak) makan, minum dan segala hal yang dapat membatalkan puasa dan pahala puasa dari subuh (pagi) hingga magrib (Petang), kemudian malamnya dilanjutkan dengan ibadah Shalat Malam/ Shalat Tarawih dan Tadarus Quran. Suasana kebatinan, kesholehan dan kekeluargaan sangat kita rasakan ketika menjelang sahur bersama anak, suami, istri dan keluarga, hal ini terkadang mengingatkan di masa kecil, ketika kita dibangunkan oleh ibu kita untuk bersaur bersama, terkadang kita masih mengatuk dan tergopoh-gopoh, tapi suasanah itu sangat hikmad serta indah dalam memori kesalehan hidup ini. Kemudian sorenya suasanan berbuka juga dirasakan kembali dapat berkumpul dengan keluarga dan terkadang kita memberikan bukaan puasa di masjid. Dan terkadang hal yang paling mengesankan dalam kehidupan kita, ketika takbir dan tahmid di akhir ramadhan semakin bertambah kebahagiaan tersebut, ketika keesokan pagi harinya kita membangunkan anak-anak untuk berangkat beribadah shalat Id Fitri bersama seluruh keluarga, dan hal ini juga mengingatkan kembali memori kenangan yang indah kepada kita bahwa bahagianya dahulu kita ketika sosok seorang ibu yang selalu memperhatikan tatkala lebaran Id Fitri tiba dengan membangunkan dan memandikan kita dipagi hari, memakaikan baju yang baru untuk merayakan lebaran dan pergi shalat Id Fitri bersama. Namun kenangan itu tidak mungkin akan kembali sama seperti dahulu, karena orang tua, ibu dan ayah kita jauh di kampung sana atau mungkin Allah sudah memanggilnya terlebih dahulu dalam pangkuannya. Oleh karena itu di bulan kemuliaan ini mari kita doakan agar kemuliaan tetap terlimpah dan tercurah kepada kedua orang tua kita yaitu ibu dan ayah serta saudara-saudara kita.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
  1. Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Refleksi dari kemenangan yaitu menebar untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya, karena dihari kemenangan ini Allah telah menyematkan kepada setiap orang beriman yang menjalankan rangkaian ibadah ramadhan seperti berpuasa, bersedekah, shalat malam dan tadarus quran dianugerakan Allah SWT La’alakum Tattakun yaitu menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah. Refleksi taqwa di antaranya yaitu saling memaafkan antara sesama, terlebih dibulan yang mulia ini. Karena begitu indahnya hidup jika tidak ada permusuhan, dengan saling memaafkan kesalahan satu sama lainnya. Allah berfirman :
" وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَوَتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ   
Artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang…” (Ali Imran [3]: 133 – 134).
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
  1. Dapat Menahan Amarah
Berikutnya refleksi kemenangan yaitu mampu tetap dapat menahan amarah, karena salah satu kemuliaan yang kita peroleh dari nikmat ramadhan dapat menstabilakan diri dari amarah. Begitu luas alquran menawarkan kepada setiap manusia untuk mengantisipasi agar tidak terpacing amarah yang dapat mengancam jiwa kita. Pertama yaitu tidak mudah melihat kesalahan orang lain, namun lihatlah terlebih dahulu kesalahan dalam diri sendiri. Perhatikan firman Allah:
يايهاالدين امنوا اجتنبوا كثيرا من الظن ان بعض الظن اثم ولا تجسسوا اولا يغتب بعضكم بعضا ايحب احدكم اياءكل لحم اخيه ميتا فكر هتموه وا تقوا الله ان الله تواب الر حيم ا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).
Ayat ini sungguh tegas memberikan petunjuk kepada manusia agar tidak mudah menuduh dan meyalahkan orang lain bersalah, padahal mereka tidak melakukan hal yang di sangkakan oleh kita. Mungkin selama ini kesalahan itu muncul pada diri kita, namun kita sering tidak mengevaluasi hal tersebut. Karena memang manusia itu lebih mudah menunjuk hidung orang lain ketimbang menunjuk hidungnya sendiri, artinya kita mudah melihat dosa orang lain ketimbang melihat keburukan sendiri. Sebagai manusia yang beriman ketika keberuntungan itu tidak datang pada kita, malah datang kepada orang lain seharusnya melihat terlebih dahulu kualitas kerja dan ibadah yang kita lakukan selama ini terlebih dahulu. Perhatikan hadis nabi  “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Turmudzi).
Kedua yaitu menjadi manusia pemaaf atas kesalahan, kehilafan orang lain dan berupaya mengajak kepada nilai-nilai keshalehan, sehingga tidak ada prasangka dan pikiran negatif terhadap siapa saja. Bahkan apapun yang terjadi pada orang lain, baik itu senang maupun sulit terhadap orang lain, ketika jiwa ini menjadi manusia pemaaf tidak muncul kecurigaan dan prasangka, artinya menjadi manusia yang memiliki pemikiran yang positif. Perhatikan firman Allah Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS.  7 : 199). Dalam ayat ini menegaskan bahwa orang yang memiliki jiwa pemaaf atau memiliki pikiran positif terhadap orang lain tergolong manusia yang cerdas, sebaliknya orang yang selalu memiliki pikiran negatif dan berburuk sangka kepada orang lain adalah manusia yang bodoh.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
  1. Allah Menjadi Prioritas Hidup
Spirit kemenangan melawan hawa nafsu yang sudah kita menangkan atas diri orang beriman selama satu bulan penuh ini mari kita jadikan tuntunan, dan pedoman dalam menjalani kehidupan di masa datang. Meskipun ramadan telah meninggalkan kita dan sudah membekali kehidupan ini dengan iman, petunjuk dan rahmat Allah, jangan sampai kita tergelincir kembali dilembah kehinaan. Untuk itu hal yang harus kita jaga yang pertama yaitu harus tetap menjaga dzikirullah (mengingat Allah) dalam setiap rangkaian kehidupan ini. Apabila kita perhatikan hadis Nabi disampaikan kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu)”. (HR. An Nasa’i,  Ahmad dan Abu Dawud).
Untuk melakukan zdikirullah (mengingat Allah) selain dengan lisan dapat kita lakukan dengan setiap rangkaian kegiatan kehidupan duniawi. Seperti disaat berangkat kerja ke kantor, pabrik, bengkel, perusahaan, kesekolah, kekampus dan tempat lainnya di mulai dengan membaca kalimat basmalah dengan niat ibadah kepada Allah, ini juga merupakan zdikir kita kepada Allah. Begitu pula bagi para wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, disaat memulai pekerjaan memasak, mencuci, bersih-bersih rumah dan mengurus keperluan anak dan suami, takala semuanya dimulai dengan basmalah dan niat karna Allah ini juga merupakan aktifitas zdikir kita kepada Allah, yang akan selalu menjaga kekonsistenan iman kita agar tetap pada hidayah dan ramhat-Nya. Bahkan apabila pekerjaan yang kita lakukan tidak dimulai dengan kalimat basmalah menurut Nabi ditolak. Lihat hadis Nabi “Setiap pekerjaan yang baik, kalau tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”. Dari keterangan hadis ini sangat jalas bahwa dengan membaca kalimat basmalah merupakan bahagian kecintaan kita kepada Allah agar rahmat-Nya selalu kita raih dalam setiap kehidupan. Selaras dengan hal itu Allah juga menegaskan, bahwa dengan kita mengingat Allah merupakan sebuah keutamaan yang sangat luar biasa dibandingkan ibadah lainnya. Dalam pengertian bahwa rangkain iman dan rahmat Allah akan tetap tercurah kepada kita, takala hamba-Nya selalu mengingat dalam hal apapun, baik itu shalat, bekerja dan segala aktifitas lainnya. Perhatikan firman Allah “...dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut : 45)”.
            Agar iman tidak mudah tergelincir maka hal yang kedua kita harus membangun rasa syukur dalam setiap kehidupan. Karena dengan kita selalu bersyukur kepada-Nya akan membawa manfaat terhadap diri sendiri. Hal ini pernah dikisahkan dalam keteladanan Luqman yang selalu bersyukur kepada Allah setiap hidupnya.
Perhatikan firman Allah :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْلِله وَمَنْ يَشْكُرْفَإنَّمَايَشْكُرُلِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka  sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.(QS. Luqman : 12)”. Terkadang dalam kehidupan ini banyak manusia tergelincir imannya disebabkan karena jarang sekali bersyukur kepada Allah. Padahal begitu banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita,  seperti kesehatan yang tidak ternilai harganya, jarang kita syukuri untuk diikut sertakan untuk ruku dan sujud pada-Nya. Kemudian disaat nikmat harta diberikan kepada kita, juga jarang untuk dibelanjakan dijalan Allah, padahal harta itu sebuah titipan. Begitu juga jabatan dan kekuasaan yang di anugerahkan kepada kita, juga terjadang kita sia-siakan dengan kita berbuat zalim dan tidak adil serta bersikap korup mengambil uang negara dengan semena-mena, padahal itu adalah amanah Allah. Namun hal yang paling terpenting dari setiap kehidupan ini kita mampu menjadi orang yang bersyukur, niscaya sekecil apapun nikmat yang Allah berikan akan menjadi berkah dan manfaat yang baik dan bahkan Allah akan menambah nikmat tersebut. Ramadhan telah membekali hal ini, dan harapan besar kita rasa syukur dapat kita bentuk dimasa akan datang, agar hidup ini terasa lebih manis.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang dirahmati Allah
  1. Melahirkan Kepedulian Sosial
Selain menjalankan kewajiban berpuasa pada bulan ramadan, orang yang beriman juga menjalankan aktivitas sosial dengaan berbagi kepada sesama, diantaranya yaitu memberikan bukaan bagi orang yang berpuasa, lihat hadis nabi “Barang siapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi). Ini merupakan salah satu bentuk cerminan membangun kepedulian sosial yang mencerminkan keimanan yang mapan. Menuju hari kemenangan yang selalu dipersiapkan oleh sebagian besar kaum muslimin yaitu mengumpulkan dana untuk menyantuni anak yatim dan fikir serta miskin, terkhusus orang yang tidak mampu. Lihat firman Allah “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  (QS. At-Taubah : 60)”. Inilah perintah untuk memberikan kepada penerima zakat fitrah, meskipun hal ini dilakukan satu tahun sekali, paling tidak kita harus peduli terhadap kesulitan orang lain, berpuasa menahan makan, minum dan lain sebagainya itu telah mendidik kita harus dapat merasakan kesulitan orang-orang yang tidak mampu disekeliling kita. Dengan hal inilah kita dapat melunakkan keperibadian kita agar peduli terhadap penderitaan orang lain. Hari kemenangan tidak akan terasa indah jika kita tidak membagi kebahagiaan tersebut kepada orang lain. Semoga ramadhan kali ini memberikan kebaikan tersendiri kepada kita semua.
PENUTUP
            Semoga dihari kemenangan ini, kita semua dapat terlahir menjadi manusia yang fitri yaitu kembali suci. Suci dari dosa-dosa yang telah lalu dan kita dapat menjalani hidup di masa akan datang dengan penuh kepatuhan dijalan Allah SWT yaitu dengan menjalankan segala perintah Allah SWT dan Meninggalkan segala larangan-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar