Penulis : Winda Kustiawan, MA
(Dosen Fakultas Dakwah dan
Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Wakil Ketua I Majelis
Dikdasmen PWM SU, email : k.winda@yahoo.com,
windakustiawan@gmail.com )
Disampaikan dalam Pelaksanaan Shalat Id Fitri 1 Syawal 1436 H/ 17 Juli 2015, Di Lapangan Parkir Medan Plaza, di Selenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Medan Baru
Assalamu’alaikum
Wr, Wb
اللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ
الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الََّذِى وَسِعَ كُلََّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ،وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَـيَاأَيُّهَا النَّاس اتَّقُوا اللَّهَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَفْضَلَكُمْ بِالْفَضَائِلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنَ اْلأُمَّةِ المَأمُوْرَةِ بِصِلَةِ اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الََّذِى وَسِعَ كُلََّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ،وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَـيَاأَيُّهَا النَّاس اتَّقُوا اللَّهَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَفْضَلَكُمْ بِالْفَضَائِلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنَ اْلأُمَّةِ المَأمُوْرَةِ بِصِلَةِ اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
MUKADDIMAH
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
Segala
puji bagi Allah SWT yang senantiasa menurunkan kemuliaan, kebaikan, kebahagiaan
dan nikmat kepada kita semua, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas duniawi
ini dengan baik, tanpa kasih dan sayang Allah SWT kita hanyalah mahluk yang
lemah dan penuh dengan keterbatasan segala hal, oleh karena itu kita harus
wajib mensyukuri nikmat ini dengan baik yaitu dengan cara tetap bertakaruf
ilallah (mendekatkan diri semata kepada Allah) dengan amal-amal kebajikan di
dunia ini.
Salawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW, semoga keteladanannya dapat kita contoh dalam sisi kehidupan ini,
terutama kepada anak, cucu dan seluruh keturunan kita. Hanya beliaulah
satu-satunya contoh manusia terbaik di dunia ini.
PENDAHULUAN
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
Gema
takbir dan tahmid terdengar serta berkumandang hampir disetiap penjuru negeri
ini, untuk mengagungkan asma Allah SWT. Ini menandakan bahwa orang-orang
beriman telah menuntaskan perjuangannya melawan musuh yang sangat besar dan
dahsyat yaitu menaklukkan hawa nafsu selama satu bulan. Ramadhan telah
memberikan pelajaran yang sangat luar biasa bagi kita semua yaitu menjalankan
ibadah puasa dengan menahan (imsyak) makan, minum dan segala hal yang dapat
membatalkan puasa dan pahala puasa dari subuh (pagi) hingga magrib (Petang),
kemudian malamnya dilanjutkan dengan ibadah Shalat Malam/ Shalat Tarawih dan
Tadarus Quran. Suasana kebatinan, kesholehan dan kekeluargaan sangat kita
rasakan ketika menjelang sahur bersama anak, suami, istri dan keluarga, hal ini
terkadang mengingatkan di masa kecil, ketika kita dibangunkan oleh ibu kita
untuk bersaur bersama, terkadang kita masih mengatuk dan tergopoh-gopoh, tapi
suasanah itu sangat hikmad serta indah dalam memori kesalehan hidup ini.
Kemudian sorenya suasanan berbuka juga dirasakan kembali dapat berkumpul dengan
keluarga dan terkadang kita memberikan bukaan puasa di masjid. Dan terkadang
hal yang paling mengesankan dalam kehidupan kita, ketika takbir dan tahmid di
akhir ramadhan semakin bertambah kebahagiaan tersebut, ketika keesokan pagi
harinya kita membangunkan anak-anak untuk berangkat beribadah shalat Id Fitri
bersama seluruh keluarga, dan hal ini juga mengingatkan kembali memori kenangan
yang indah kepada kita bahwa bahagianya dahulu kita ketika sosok seorang ibu
yang selalu memperhatikan tatkala lebaran Id Fitri tiba dengan membangunkan dan
memandikan kita dipagi hari, memakaikan baju yang baru untuk merayakan lebaran
dan pergi shalat Id Fitri bersama. Namun kenangan itu tidak mungkin akan
kembali sama seperti dahulu, karena orang tua, ibu dan ayah kita jauh di
kampung sana atau mungkin Allah sudah memanggilnya terlebih dahulu dalam
pangkuannya. Oleh karena itu di bulan kemuliaan ini mari kita doakan agar
kemuliaan tetap terlimpah dan tercurah kepada kedua orang tua kita yaitu ibu
dan ayah serta saudara-saudara kita.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
- Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Refleksi
dari kemenangan yaitu menebar untuk saling memaafkan antara satu dengan yang
lainnya, karena dihari kemenangan ini Allah telah menyematkan kepada setiap
orang beriman yang menjalankan rangkaian ibadah ramadhan seperti berpuasa,
bersedekah, shalat malam dan tadarus quran dianugerakan Allah SWT La’alakum Tattakun yaitu menjadi manusia
yang bertaqwa kepada Allah. Refleksi taqwa di antaranya yaitu saling memaafkan
antara sesama, terlebih dibulan yang mulia ini. Karena begitu indahnya hidup
jika tidak ada permusuhan, dengan saling memaafkan kesalahan satu sama lainnya.
Allah berfirman :
" وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ
مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَوَتُ وَٱلْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ
وَٱلْكَظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ
ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya
: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan)
orang…” (Ali Imran [3]: 133 – 134).
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
- Dapat Menahan Amarah
Berikutnya
refleksi kemenangan yaitu mampu tetap dapat menahan amarah, karena salah satu
kemuliaan yang kita peroleh dari nikmat ramadhan dapat menstabilakan diri dari
amarah. Begitu luas alquran menawarkan kepada setiap manusia untuk
mengantisipasi agar tidak terpacing amarah yang dapat mengancam jiwa kita. Pertama
yaitu tidak mudah melihat kesalahan orang lain, namun lihatlah terlebih dahulu
kesalahan dalam diri sendiri. Perhatikan firman Allah:
يايهاالدين
امنوا اجتنبوا كثيرا من الظن ان بعض الظن اثم ولا تجسسوا اولا يغتب بعضكم بعضا
ايحب احدكم اياءكل لحم اخيه ميتا فكر هتموه وا تقوا الله ان الله تواب الر حيم ا
Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian
dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang
lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).
Ayat ini sungguh tegas memberikan petunjuk kepada manusia
agar tidak mudah menuduh dan meyalahkan orang lain bersalah, padahal mereka
tidak melakukan hal yang di sangkakan oleh kita. Mungkin selama ini kesalahan
itu muncul pada diri kita, namun kita sering tidak mengevaluasi hal tersebut.
Karena memang manusia itu lebih mudah menunjuk hidung orang lain ketimbang
menunjuk hidungnya sendiri, artinya kita mudah melihat dosa orang lain
ketimbang melihat keburukan sendiri. Sebagai manusia yang beriman ketika
keberuntungan itu tidak datang pada kita, malah datang kepada orang lain
seharusnya melihat terlebih dahulu kualitas kerja dan ibadah yang kita lakukan
selama ini terlebih dahulu. Perhatikan hadis nabi “Orang
yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta
beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah
orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah
SWT.” (HR. Turmudzi).
Kedua
yaitu menjadi manusia pemaaf atas kesalahan, kehilafan orang lain dan berupaya
mengajak kepada nilai-nilai keshalehan, sehingga tidak ada prasangka dan
pikiran negatif terhadap siapa saja. Bahkan apapun yang terjadi pada orang
lain, baik itu senang maupun sulit terhadap orang lain, ketika jiwa ini menjadi
manusia pemaaf tidak muncul kecurigaan dan prasangka, artinya menjadi manusia
yang memiliki pemikiran yang positif. Perhatikan firman Allah “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan
pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. 7 :
199). Dalam ayat ini menegaskan bahwa orang yang memiliki jiwa pemaaf atau
memiliki pikiran positif terhadap orang lain tergolong manusia yang cerdas,
sebaliknya orang yang selalu memiliki pikiran negatif dan berburuk sangka
kepada orang lain adalah manusia yang bodoh.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
- Allah Menjadi Prioritas Hidup
Spirit
kemenangan melawan hawa nafsu yang sudah kita menangkan atas diri orang beriman
selama satu bulan penuh ini mari kita jadikan tuntunan, dan pedoman dalam
menjalani kehidupan di masa datang. Meskipun ramadan telah meninggalkan kita
dan sudah membekali kehidupan ini dengan iman, petunjuk dan rahmat Allah,
jangan sampai kita tergelincir kembali dilembah kehinaan. Untuk itu hal yang
harus kita jaga yang pertama yaitu harus tetap menjaga dzikirullah (mengingat Allah) dalam setiap rangkaian kehidupan ini.
Apabila kita perhatikan hadis Nabi disampaikan kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku
benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap
akhir shalat: ‘Allahumma
a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta
agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu)”. (HR. An Nasa’i, Ahmad dan Abu Dawud).
Untuk
melakukan zdikirullah (mengingat
Allah) selain dengan lisan dapat kita lakukan dengan setiap rangkaian kegiatan
kehidupan duniawi. Seperti disaat berangkat kerja ke kantor, pabrik, bengkel,
perusahaan, kesekolah, kekampus dan tempat lainnya di mulai dengan membaca
kalimat basmalah dengan niat ibadah
kepada Allah, ini juga merupakan zdikir
kita kepada Allah. Begitu pula bagi para wanita yang berprofesi sebagai ibu
rumah tangga, disaat memulai pekerjaan memasak, mencuci, bersih-bersih rumah
dan mengurus keperluan anak dan suami, takala semuanya dimulai dengan basmalah dan niat karna Allah ini juga
merupakan aktifitas zdikir kita
kepada Allah, yang akan selalu menjaga kekonsistenan iman kita agar tetap pada
hidayah dan ramhat-Nya. Bahkan
apabila pekerjaan yang kita lakukan tidak dimulai dengan kalimat basmalah menurut Nabi ditolak. Lihat
hadis Nabi “Setiap pekerjaan yang baik, kalau tidak dimulai dengan
“Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari
keberkahan Allah)”. Dari keterangan hadis ini sangat jalas bahwa dengan membaca kalimat
basmalah merupakan bahagian kecintaan kita kepada Allah agar rahmat-Nya selalu
kita raih dalam setiap kehidupan. Selaras dengan hal itu Allah juga menegaskan,
bahwa dengan kita mengingat Allah merupakan sebuah keutamaan yang sangat luar
biasa dibandingkan ibadah lainnya. Dalam pengertian bahwa rangkain iman dan
rahmat Allah akan tetap tercurah kepada kita, takala hamba-Nya selalu mengingat
dalam hal apapun, baik itu shalat, bekerja dan segala aktifitas lainnya.
Perhatikan firman Allah “...dan
sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut : 45)”.
Agar iman
tidak mudah tergelincir maka hal yang kedua kita harus membangun rasa syukur
dalam setiap kehidupan. Karena dengan kita selalu bersyukur kepada-Nya akan
membawa manfaat terhadap diri sendiri. Hal ini pernah dikisahkan dalam
keteladanan Luqman yang selalu bersyukur kepada Allah setiap hidupnya.
Perhatikan firman Allah :
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ
اشْكُرْلِله وَمَنْ يَشْكُرْفَإنَّمَايَشْكُرُلِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ
اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada
Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang
bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.(QS. Luqman :
12)”. Terkadang dalam kehidupan ini banyak manusia tergelincir imannya disebabkan
karena jarang sekali bersyukur kepada Allah. Padahal begitu banyak nikmat yang
Allah anugerahkan kepada kita, seperti
kesehatan yang tidak ternilai harganya, jarang kita syukuri untuk diikut
sertakan untuk ruku dan sujud pada-Nya. Kemudian disaat nikmat harta diberikan
kepada kita, juga jarang untuk dibelanjakan dijalan Allah, padahal harta itu
sebuah titipan. Begitu juga jabatan dan kekuasaan yang di anugerahkan kepada
kita, juga terjadang kita sia-siakan dengan kita berbuat zalim dan tidak adil
serta bersikap korup mengambil uang negara dengan semena-mena, padahal itu
adalah amanah Allah. Namun hal yang paling terpenting dari setiap kehidupan ini
kita mampu menjadi orang yang bersyukur, niscaya sekecil apapun nikmat yang
Allah berikan akan menjadi berkah dan manfaat yang baik dan bahkan Allah akan
menambah nikmat tersebut. Ramadhan telah membekali hal ini, dan harapan besar
kita rasa syukur dapat kita bentuk dimasa akan datang, agar hidup ini terasa
lebih manis.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin Jama’ah Shalat Id yang
dirahmati Allah
- Melahirkan Kepedulian Sosial
Selain
menjalankan kewajiban berpuasa pada bulan ramadan, orang yang beriman juga
menjalankan aktivitas sosial dengaan berbagi kepada sesama, diantaranya yaitu
memberikan bukaan bagi orang yang berpuasa, lihat hadis nabi “Barang siapa
yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang
semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi). Ini merupakan salah satu bentuk cerminan membangun
kepedulian sosial yang mencerminkan keimanan yang mapan. Menuju hari kemenangan
yang selalu dipersiapkan oleh sebagian besar kaum muslimin yaitu mengumpulkan
dana untuk menyantuni anak yatim dan fikir serta miskin, terkhusus orang yang
tidak mampu. Lihat firman Allah “Sesungguhnya zakat-zakat itu,
hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 60)”. Inilah perintah untuk memberikan
kepada penerima zakat fitrah, meskipun hal ini dilakukan satu tahun sekali,
paling tidak kita harus peduli terhadap kesulitan orang lain, berpuasa menahan
makan, minum dan lain sebagainya itu telah mendidik kita harus dapat merasakan
kesulitan orang-orang yang tidak mampu disekeliling kita. Dengan hal inilah
kita dapat melunakkan keperibadian kita agar peduli terhadap penderitaan orang
lain. Hari kemenangan tidak akan terasa indah jika kita tidak membagi
kebahagiaan tersebut kepada orang lain. Semoga ramadhan kali ini memberikan
kebaikan tersendiri kepada kita semua.
PENUTUP
Semoga dihari kemenangan ini, kita
semua dapat terlahir menjadi manusia yang fitri yaitu kembali suci. Suci dari
dosa-dosa yang telah lalu dan kita dapat menjalani hidup di masa akan datang
dengan penuh kepatuhan dijalan Allah SWT yaitu dengan menjalankan segala
perintah Allah SWT dan Meninggalkan segala larangan-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar