Penulis : Winda Kustiawan, MA
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD)
Kabupaten Langkat telah menutup pendaftaran calon Bupati dan Wakil Bupati
periode 2014-2019 pada hari jum’at tanggal 12 Juli 2013. Menurut salah satu
media online melansir ada 4 pasangan
calon kandidat yang akan bertarung merebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten
Langkat untuk 5 tahun kedepan yaitu Yunus Saragih berpasangan dengan Sahmadi
Fiddin, T.Abdul Azis berpasangan dengan Sutiarnoto, Budiono berpasangan dengan
Abdul Khair, dan hari terakhir pencalonan yaitu pasangan Ngogesa Sitepu dengan
Sulistianto. Masing-masing memiliki tread
record politik yang berbeda-beda, dari mantan anggota Dewan, mantan wakil
bupati, mantan Pj. Bupati, pengusaha, kontraktor, mantan Plt. Kadis Pendidikan
dan Pengajaran dan ada yang masih aktif menjadi Bupati dan wakil Bupati atau
sering kita sebut dengan calon incumbent.
Saya yakin dan percaya dari kedelapan calon pemimpin tersebut masing-masing
memiliki niat yang baik untuk membangun kabupaten Langkat 5 tahun kedepan.
Karena Kabupaten langkat merupakan salah satu kabupaten terluas di Propinsi
Sumatera Utara, dengan memiliki potensi sumber daya Alam yang sangat potensial,
dari Kawasan Hutan Gunung Lowser, kawasan hutan Manggrouve (Bakau), Kujungan
Wisata Taman Bukit lawang dan Tangkahan, hasil Tambang batu dan pasir sungai,
Hasil Laut, menghubungkan Jalur Lintas Sumut-Aceh, Kawasan PTPN, minyak bumi
dan Gas Alamnya.
Untuk
menjadi pemimpin Langkat di tanah melayu tidak semudah membalik telapak tangan,
dari mulai persaingan politik yang begitu kompetitif, dari isu kesukuan,
ketokohan, dan sampai kekuatan finansial, bisa menjadi penentu. Namun yang
menjadi konsentrasi para calon pemimpin di kabupaten Langkat adalah suara etnis
jawa yang menjadi penentu kemenangan mereka, sehingga setiap pasangan harus
menggandeng etnis jawa. Dari data yang ada Kabupaten Langkat dengan jumlah
penduduk yang begitu banyak lebih kurang mencapai 1.042.523 Jiwa dengan rincian
mayoritas penduduk kabupaten Langkat adalah etnis Jawa yang mencapai 56,87 %,
diikuti oleh Melayu dan Karo. Melayu dan Karo adalah penduduk asli Kabupaten
Langkat dengan persentase masing-masing 14,93 persen dan 10,22 persen, Tapanuli
/ Toba (4,50 persen), Madina (2,54 persen) dan lainnya (10,94 persen). Jumlah
penduduk Jawa yang besar, terutama terkait dengan banyaknya perkebunan yang
umumnya karyawannya adalah etnis Jawa. Kemudian di Kabupaten Langkat, juga
terdapat daerah transmigrasi di Kecamatan Sei Lepan yang umumnya berasal dari
Pulau Jawa. (data terarhir dari BPS 2011). Apabila di analisis dari data
statistik yang ada maka pasangan jawa akan menjadi faktor penentu.
Dari
data yang ada sudah sangat jelas bahwa etnis jawalah yang menjadi faktor
penentu kemenangan apabila ingin merebut kursi nomor satu di Tanah Melayu. Dari
keempat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati pasangan Budiono dan Abdul Khair
sepertinya yang diuntungkan. Karena pasangan jawa dan melayu (bila dilihat hitungan persentasenya jumlah
penduduk) mendominasi, terlebih budiono adalah Wakil Bupati aktif, sedikit
banyaknya memiliki pengaruh besar baik dari birokrasi maupun ketokohan, dan
hampir banyak paguyuban etnis jawa di rangkulnya, serta banyaknya kerabat
beliau dari kalangan politisi. Namun tidak menutup kemungkinan peluang paling besar
pasangan Ngogesa Sitepu dan Sulistianto akan menjadi penentu kemenagan kembali merebut
kursi nomor satu di Tanah Melayu, di karenakan kekuatan masih menjabat Bupati
aktif sehingga dapat menggunakan peranannya sebagai Stakeholder (Pemangku kepentingan). Dan di dukung oleh etnis Karo
yang kuat terhimpun pada paguyuban Marga Silema (Karo-karo, Ginting, Tarigan,
Sembiring, Perangin-angin) sangatlah strategis dan kuat, berbeda dengan suku
jawa yang terkesan dapat berpecah belah, ini mungkin di karenakan faktor historis atau sejarah karena orang jawa
dikenal bisa di aduh domba dan pekerja atau buruh berkarakter mengikut sang
majikan saja. Bukan maksud untuk mengecilkan orang jawa, namun dapat kita lihat
bukti di era perpolitikan modern saat ini yaitu banyaknya organisasi paguyuban
etnis jawa dari Pujakesuma, Forum Komunikasi Warga Jawa (FKWJ), Pendhawa,
Pedowo, Joko Tingkir dan masih banyak lagi paguyuban yang terbentuk atas
kepentingan politik, sehingga etnis jawa terkadang memiliki bargaining position (Nilai Tawar) yang
lemah. Pasangan ini juga di untungkan dengan kekuatan jawa yang birokrasi yaitu
Sulistianto dengan syarat pengalaman di dunia administrasi, karena beliau
menjabat sebagai Kaban Kesbangpol
Linmas Langkat yang juga mantan Plt. Kadis P dan P Langkat.
Menurut analisis penulis kedua pasangan diatas
akan menjadi belunder atau kalah apabila kedua pasangan yang lainnya seperti
Yunus Saragi-Sahmadi Fiddin dan T. Abdul Aziz-Sutiarnoto mampu mengambil
isu-isu yang strategis atau dapat menjadi
kuda hitam (Menjadi Pemenang). Seperti visi dan misi membangun birokrasi
yang bersih dari tindakan korupsi dan penyalahgunaan, pembangunan yang merata
serta peluang usaha kecil mandiri. Karena kampanye ini terkadang dapat
menggeser kekuatan incumbent, seperti
kemenangan pasangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Cahaya Purnama
(Ahok) menggeser calon incumbent Fauzi
Wibowo. Karena biasanya masyakat yang mayoritas jawa lebih senang di berikan
sentuhan peluang usaha, dikarenakan etnis jawa yang terbiasa bekerja dan
berwirausaha. Dan di topang lagi dengan pemerintahan yang bersih serta
birokrasi yang mudah, seperti pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan dan
pembangunan yang merata. Nah apabila hal ini mampu dikemas dengan rapi dan apik
oleh di luar incumbent akan menjadi
celah kemenangan tersendiri bagi pasangan Yunus Saragih dan Sahmadi Fiddin
(Pasangan Suku Batak Simalungun dan Jawa) dan T. Abdul Aziz dan Sutiarnoto
(pasangan suku Melayu dan Jawa) dari jalur Independent.
Keempat
pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang telah mencalonkan diri ke KPUD
Kabupaten Langkat semuanya memiliki peluang untuk menjadi pemimpin di Tanah
Melayu, namun yang menjadi faktor penentu kemenangan selain kemapuan politik
yang memadai, konsolidasi, kekuatan finansial
atau materi adalah suara komunitas etnis jawa. Namun aspek yang perlu
dipertimbangkan bagi seluruh lapisan masyarakat di kabupaten langkat baik itu
suku jawa, melayu, karo, mandailing, Batak Toba, Simalungun, Aceh dan sebagainya,
yang paling terpenting jangan mudah dibuai dengan rayuan dan bahkan pemberian
bingkisan serta uang. Yang pada akhirnya kabupaten Langkat yang kita
idam-idamkan sebagai daerah yang bersih dan sejahterah jauh dari harapan.
Siapapun pemimpinnya yang akan kita pilih nanti marilah kita jalankan demokrasi
dengan baik, tanpa ada kecurangan dan kerusuhan, dan harus mengutamakan fair play (Jujur dalam berkompetisi),
bagi seluruh pasangan calon, tim pemenangan dan pendukung agar menyiapkan diri
siap kalah dan siap menang.
Tulisan ini di muat di harian Medan Pos kolom Politik Rabu 17 Juli 2013
(Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Langkat (PB.HIMALA) Sumatera Utara Periode 2006-2008, dan
Dosen Fakultas Dakwah dan komunikasi IAIN SU)
pak saya saat ini sedang menulis tesis etnis jawa dalam politik di kabupaten langkat mohon bantuan bapak kalo bisa dengan membaeritahukan nomor hp bapak nomor hp saya 082165837733
BalasHapus081375470252 Winda Kustiawan. Kuliah dimana pak Wahyu...???Mudah2an bisa saya bantu menginformasikannya.
Hapusbapak bisa add saya di FB biar enak juga winda kustiawan atau di email k.winda@yahoo.com
Hapus