Rabu, 26 Juni 2013

Membangun Kesucian Hati

Oleh: Winda Kustiawan, S.Sos.I, MARapat sidang paripurna DPR-RI hari senin tanggal 17 Juni 2013 dengan agenda RAPBN-P tahun 2013 salah satunya memutuskan mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kompensasi bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) bagi warga yang kurang mampu. 
Sebelum terjadinya keputusan dinaikkan BBM bersubsidi banyak kegiatan dan respon yang dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat, ormas dan lembaga yang mengatas namakan rakyat. Baik dari kalangan masyarakat kelas atas, berpendidikan, mahasiswa, buru, nelayan dan tani melakukan gerakan penolakan kenaikan BBM tersebut. Namun juga tidak sedikit pula yang menerima kenaikan harga BBM bersubsidi. 
Penolakan yang dilakukan dengan membuat diskusi publik, seminar, opini, artikel, membuat tulisan di baliho dan spanduk, hingga berdemontrasi. Menurut mereka dengan kenaikan harga BBM bersubsidi yang dilakukan pemerintah akan menambah kesengsaraan masyarakat. Karena dengan perekonomian yang sangat kacau yaitu penghasilan yang didapat jauh berbanding terbalik dengan pengeluaran yang sangat besar, biaya sandang pangan dan kebutuhan sehari-hari sudah sulit ditambah lagi kesulitan hidup dengan kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi, yang akan memicu kenaikan harga semua bahan pokok tersebut. Namun berbeda pendapat pula dengan yang menerima kenaikan bahan bakar minyak bersubsisi yaitu diantara negara-negara asia tenggara, Indonesialah yang paling murah harga BBM-nya, sehingga akan berdampak kepada pencurian minyak dari Indonesia dijual kepada negara lain yang pada akhirnya dapat menyengsarakan rakyat dan hanya menguntungkan pihak tertentu. 
adapula berpendapat bahwa kondisi kas keuangan negara akan devisit anggaran (lebih besar pengeluaran dari pemasukan) apabila subsidi BBM terus berlangsung dan rakyat yang akan mendapatkan dampak buruk ekonomi yang berkepanjangan.
Apabila kita cermati bersama dari kedua belah pihak yang menentang dan menerima kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi tersebut, ada sebuah tujuan yang mulia diantara keduanya dalam menatap masa depan umat, bangsa dan negara. Yaitu mereka tidak menginginkan di masa yang akan datang masyarakat dan umat sengsara, karena kebijakan yang diambil tidak tepat dan salah. Akan tetapi cara pandang, respon dan tindakkan yang berbeda-beda dalam memperjuangkan masa depan kehidupan umat. Sebagai orang yang beriman kepada Allah kita harus mampu menjadikan hal yang terjadi merupakan pelajaran yang berharga. Terutama mampu membersikan diri dan hati dari prasangka yang tidak baik kepada siapapun yaitu mensucikan hati. Maka hal yang pertama yang harus kita bangun dalam mensucikan hati adalah berlaku sabar. Karena dengan sabar Allah akan memberikan jalan yang terbaik kepada hamba-Nya dalam keadaan apapun. Terutama disaat kita kesulitan ekonomi seperti saat ini, yaitu dengan naiknya harga bahan pangan dan keperluan sehari-hari di karenakan pengesahan kenaikan harga BBM bersubsidi. Walaupun terkadang kita tidak senang dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah atau pemimpin bangsa ini, sebagai orang yang beriman harus mampu bersikap sabar dengan kondisi tersebut. Lihat sabda nabi “Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (HR. Bukhari dan Muslim)”. Orang yang sabar dengan mensucikan jiwanya akan dimuliakan oleh Allah dalam setiap keadaan apapun di dunia ini, akan terhindar dari sebuah kesulitan hidup, kesengsaraan dan penderitaan. Terlebih Allah akan memuliakan di kehidupan akhirat kelak, karena orang yang mampu berlaku sabar Allah akan mengganjari pahala yang sangat luas tanpa batasan. Perhatikan Firman Allah “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar : 10)”.
Dalam menuju kesucian hidup yang kedua yaitu jangan memburukkan dan menjelekkan orang lain kepada khalayak umat, terutama kepada pemimpin kita. Yaitu dengan melakukan penghinaan dan fitnah yang dapat menimbulkan perpencahan serta permusuhan di antara umat. Yang pada akhirnya akan menambah kesengsaraan kehidupan umat, karena Islam melarang tindakan penghinaan dan fitnah. Karena bisa jadi yang kita hina dan fitnah tersebut lebih baik dari pada kita. Dan apabila menghina serta mencela orang lain dengan menyebut sesuatu yang buruk, maka itulah seburuk-buruk keimanan. 
Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim (QS. Al-Hujarat : 11)”. 
sebagai orang yang beriman kepada Allah kita harus menghindari seagala bentuk penghinaan dan fitnah agar kesucian hati tetap tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama kita harus menjaga lisan dari pembicaran yang mebawa mudharat. Sehingga Allah akan mempermudah setiap kehidupan yang kita jalani.
Setiap kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya. Maka untuk menuju kesucian hati yang ketiga adalah kita harus mampu berpikir yang nalar dan mencari jalan keluar dari sebuah kesulitan. Tidak serta merta diam dan pasrah dengan keadaan yang sedang dialami, dan bahkan tidak bertindak apapun. Sebagai orang yang beriman harus menyakini bahwa Allah akan memberikan sebuah kemudahan setelah kesulitan. Nanum dengan berusaha sekuat tenaga berpikir dan mencari solusi keluar dari sebuah kesulitan yang menimpah kita. Seperti halnya saat ini walaupun kebutuhan pokok melonjak naik dengan tajam sementara gaji yang diperoleh tidak kunjung naik, sehingga pengeluaran akan bertambah banyak dan pemasukan sangat sedikit. Namun Allah mengingatkan kepada kita agar jangan mudah putus asa, yakinlah bahwa setelah kesulitan Allah akan menghadirkan kemudahan hidup. Lihat Firman Allah “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS. Alam Nasyrah : 5-7)”. Dari keterangan ayat diatas jelas bahwa Allah akan memberikan yang terbaik apabila manusia mampu bersungguh-sungguh dalam menghadapi kesulitan dengan keyakinan yang baik. Dengan ini kesucian jiwa tetap terjaga, karena kesungguhan kita mampu keluar dari sebuah kesulitan.
Kita berharap bahwa keputusan yang dilakukan pemerintah merupakan jalan yang terbaik, yang akan membawa dampak kemakmuran bagi umat, bangsa dan negara ini. Dan bagi yang memperjuangkan untuk menolak kenaikan harga BBM bersubsidi juga memiliki tujuan yang mulia kepada umat, bangsa dan negara, agar tetap mudah dalam menjalani kehidupan. Yang paling terpenting bagi kita semua tetap membangun dan menjaga kualitas kesucian hati. sehingga tidak terjadi benturan, permusuhan, kebencian dan konflik di negeri ini. Wallahu’alam
Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Sumatera Utara.
(Tulisan ini Pernah di Harian Analisa Hari Jum'at Tanggal 21 Juni 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar