Senin, 09 September 2013

ETNIS JAWA PENENTU PEMIMPIN LANGKAT DI TANAH MELAYU

Penulis : Winda Kustiawan, MA
            Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Langkat telah menutup pendaftaran calon Bupati dan Wakil Bupati periode 2014-2019 pada hari jum’at tanggal 12 Juli 2013. Menurut salah satu media online melansir ada 4 pasangan calon kandidat yang akan bertarung merebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Langkat untuk 5 tahun kedepan yaitu Yunus Saragih berpasangan dengan Sahmadi Fiddin, T.Abdul Azis berpasangan dengan Sutiarnoto, Budiono berpasangan dengan Abdul Khair, dan hari terakhir pencalonan yaitu pasangan Ngogesa Sitepu dengan Sulistianto. Masing-masing memiliki tread record politik yang berbeda-beda, dari mantan anggota Dewan, mantan wakil bupati, mantan Pj. Bupati, pengusaha, kontraktor, mantan Plt. Kadis Pendidikan dan Pengajaran dan ada yang masih aktif menjadi Bupati dan wakil Bupati atau sering kita sebut dengan calon incumbent. Saya yakin dan percaya dari kedelapan calon pemimpin tersebut masing-masing memiliki niat yang baik untuk membangun kabupaten Langkat 5 tahun kedepan. Karena Kabupaten langkat merupakan salah satu kabupaten terluas di Propinsi Sumatera Utara, dengan memiliki potensi sumber daya Alam yang sangat potensial, dari Kawasan Hutan Gunung Lowser, kawasan hutan Manggrouve (Bakau), Kujungan Wisata Taman Bukit lawang dan Tangkahan, hasil Tambang batu dan pasir sungai, Hasil Laut, menghubungkan Jalur Lintas Sumut-Aceh, Kawasan PTPN, minyak bumi dan Gas Alamnya.
Untuk menjadi pemimpin Langkat di tanah melayu tidak semudah membalik telapak tangan, dari mulai persaingan politik yang begitu kompetitif, dari isu kesukuan, ketokohan, dan sampai kekuatan finansial, bisa menjadi penentu. Namun yang menjadi konsentrasi para calon pemimpin di kabupaten Langkat adalah suara etnis jawa yang menjadi penentu kemenangan mereka, sehingga setiap pasangan harus menggandeng etnis jawa. Dari data yang ada Kabupaten Langkat dengan jumlah penduduk yang begitu banyak lebih kurang mencapai 1.042.523 Jiwa dengan rincian mayoritas penduduk kabupaten Langkat adalah etnis Jawa yang mencapai 56,87 %, diikuti oleh Melayu dan Karo. Melayu dan Karo adalah penduduk asli Kabupaten Langkat dengan persentase masing-masing 14,93 persen dan 10,22 persen, Tapanuli / Toba (4,50 persen), Madina (2,54 persen) dan lainnya (10,94 persen). Jumlah penduduk Jawa yang besar, terutama terkait dengan banyaknya perkebunan yang umumnya karyawannya adalah etnis Jawa. Kemudian di Kabupaten Langkat, juga terdapat daerah transmigrasi di Kecamatan Sei Lepan yang umumnya berasal dari Pulau Jawa. (data terarhir dari BPS 2011). Apabila di analisis dari data statistik yang ada maka pasangan jawa akan menjadi faktor penentu.
Dari data yang ada sudah sangat jelas bahwa etnis jawalah yang menjadi faktor penentu kemenangan apabila ingin merebut kursi nomor satu di Tanah Melayu. Dari keempat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati pasangan Budiono dan Abdul Khair sepertinya yang diuntungkan. Karena pasangan jawa dan melayu (bila dilihat hitungan persentasenya jumlah penduduk) mendominasi, terlebih budiono adalah Wakil Bupati aktif, sedikit banyaknya memiliki pengaruh besar baik dari birokrasi maupun ketokohan, dan hampir banyak paguyuban etnis jawa di rangkulnya, serta banyaknya kerabat beliau dari kalangan politisi. Namun tidak menutup kemungkinan peluang paling besar pasangan Ngogesa Sitepu dan Sulistianto akan menjadi penentu kemenagan kembali merebut kursi nomor satu di Tanah Melayu, di karenakan kekuatan masih menjabat Bupati aktif sehingga dapat menggunakan peranannya sebagai Stakeholder (Pemangku kepentingan). Dan di dukung oleh etnis Karo yang kuat terhimpun pada paguyuban Marga Silema (Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, Perangin-angin) sangatlah strategis dan kuat, berbeda dengan suku jawa yang terkesan dapat berpecah belah, ini mungkin di karenakan faktor historis atau sejarah karena orang jawa dikenal bisa di aduh domba dan pekerja atau buruh berkarakter mengikut sang majikan saja. Bukan maksud untuk mengecilkan orang jawa, namun dapat kita lihat bukti di era perpolitikan modern saat ini yaitu banyaknya organisasi paguyuban etnis jawa dari Pujakesuma, Forum Komunikasi Warga Jawa (FKWJ), Pendhawa, Pedowo, Joko Tingkir dan masih banyak lagi paguyuban yang terbentuk atas kepentingan politik, sehingga etnis jawa terkadang memiliki bargaining position (Nilai Tawar) yang lemah. Pasangan ini juga di untungkan dengan kekuatan jawa yang birokrasi yaitu Sulistianto dengan syarat pengalaman di dunia administrasi, karena beliau menjabat sebagai Kaban Kesbangpol Linmas Langkat yang juga mantan Plt. Kadis P dan P Langkat.
Menurut analisis penulis kedua pasangan diatas akan menjadi belunder atau kalah apabila kedua pasangan yang lainnya seperti Yunus Saragi-Sahmadi Fiddin dan T. Abdul Aziz-Sutiarnoto mampu mengambil isu-isu yang strategis atau dapat menjadi  kuda hitam (Menjadi Pemenang). Seperti visi dan misi membangun birokrasi yang bersih dari tindakan korupsi dan penyalahgunaan, pembangunan yang merata serta peluang usaha kecil mandiri. Karena kampanye ini terkadang dapat menggeser kekuatan incumbent, seperti kemenangan pasangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) menggeser calon incumbent Fauzi Wibowo. Karena biasanya masyakat yang mayoritas jawa lebih senang di berikan sentuhan peluang usaha, dikarenakan etnis jawa yang terbiasa bekerja dan berwirausaha. Dan di topang lagi dengan pemerintahan yang bersih serta birokrasi yang mudah, seperti pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan dan pembangunan yang merata. Nah apabila hal ini mampu dikemas dengan rapi dan apik oleh di luar incumbent akan menjadi celah kemenangan tersendiri bagi pasangan Yunus Saragih dan Sahmadi Fiddin (Pasangan Suku Batak Simalungun dan Jawa) dan T. Abdul Aziz dan Sutiarnoto (pasangan suku Melayu dan Jawa) dari jalur Independent.
            Keempat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang telah mencalonkan diri ke KPUD Kabupaten Langkat semuanya memiliki peluang untuk menjadi pemimpin di Tanah Melayu, namun yang menjadi faktor penentu kemenangan selain kemapuan politik yang memadai, konsolidasi, kekuatan finansial atau materi adalah suara komunitas etnis jawa. Namun aspek yang perlu dipertimbangkan bagi seluruh lapisan masyarakat di kabupaten langkat baik itu suku jawa, melayu, karo, mandailing, Batak Toba, Simalungun, Aceh dan sebagainya, yang paling terpenting jangan mudah dibuai dengan rayuan dan bahkan pemberian bingkisan serta uang. Yang pada akhirnya kabupaten Langkat yang kita idam-idamkan sebagai daerah yang bersih dan sejahterah jauh dari harapan. Siapapun pemimpinnya yang akan kita pilih nanti marilah kita jalankan demokrasi dengan baik, tanpa ada kecurangan dan kerusuhan, dan harus mengutamakan fair play (Jujur dalam berkompetisi), bagi seluruh pasangan calon, tim pemenangan dan pendukung agar menyiapkan diri siap kalah dan siap menang.
Tulisan ini di muat di harian Medan Pos kolom Politik Rabu 17 Juli 2013
(Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Langkat (PB.HIMALA) Sumatera Utara Periode 2006-2008, dan Dosen Fakultas Dakwah dan komunikasi IAIN SU)

3 komentar:

  1. pak saya saat ini sedang menulis tesis etnis jawa dalam politik di kabupaten langkat mohon bantuan bapak kalo bisa dengan membaeritahukan nomor hp bapak nomor hp saya 082165837733

    BalasHapus
    Balasan
    1. 081375470252 Winda Kustiawan. Kuliah dimana pak Wahyu...???Mudah2an bisa saya bantu menginformasikannya.

      Hapus
    2. bapak bisa add saya di FB biar enak juga winda kustiawan atau di email k.winda@yahoo.com

      Hapus