Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ), juga
Ar-Raziq (الرَّازِقُ). Nama Allah k itu disebutkan dalam ayat-Nya:
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)
Demikian juga dalam hadits Rasul-Nya n yang diriwayatkan dari Anas z, ia berkata, “Orang-orang mengatakan:
يَا رَسُولَ اللهِ غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا. فَقَالَ رَسُولُ
اللهِ n: إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ،
وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ
يُطَالِبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ
“Wahai Rasulullah, harga-harga naik. Kami mohon Anda menetapkan
harga.” Beliau menjawab, “Allah l-lah yang menentukan harga, yang
menahan dan yang membentangkan, serta yang memberi rezeki. Aku berharap
agar berjumpa dengan Allah l dalam keadaan tidak ada seorang pun dari
kalian menuntutku karena sebuah kezaliman dalam urusan darah atau
harta.” (Sahih, HR. Abu Dawud. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
As-Sa’di t menerangkan makna nama Allah l tersebut, “Maha Pemberi
Rezeki terhadap seluruh makhluk, sehingga tidaklah ada sesuatu yang ada
di alam angkasa ataupun alam bumi kecuali menikmati rezeki-Nya dan
dilingkupi oleh kedermawanan-Nya.”
Muhammad Khalil al-Harras berkata, “Salah satu nama Allah l adalah
اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq), yang merupakan bentuk mubalaghah1 dari kata
اَلرَّازِقُ (Ar-Raziq). Perubahan bentuk kata tersebut menunjukkan
sesuatu yang banyak, diambil dari kata اَلرَّزْقُ (ar-razq) yang
bermakna pemberian rezeki, yang merupakan bentuk mashdar (kata dasar).
Adapun اَلرِّزْقُ (ar-rizq) adalah nama bagi sesuatu yang Allah l
rezekikan kepada seorang hamba (kata benda). Jadi, makna Ar-Razzaq
adalah Dzat yang banyak memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, yang
bantuan dan keutamaan-Nya bagi mereka tidak terputus walau sekejap mata.
Adapun kata Ar-Razq sama dengan kata Al-Khalq (penciptaan), yaitu
sebagai salah satu sifat perbuatan, yakni salah satu sifat-Nya sebagai
Rabb (Rububiyyah). Kata Ar-Razq tidak boleh disandarkan kepada yang
selain-Nya, sehingga yang selain-Nya tidak boleh disebut Raziq (pemberi
rezeki) sebagaimana tidak boleh disebut Khaliq (pencipta). Allah l
berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian
mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang
kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang
demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka
persekutukan.” (ar-Rum: 40)
Jadi, semua rezeki itu di tangan Allah l saja. Dialah pencipta rezeki
dan pencipta makhluk yang memanfaatkan rezeki tersebut. Dialah yang
menyampaikan rezeki tersebut kepada mereka. Dia juga merupakan Pencipta
sebab-sebab menikmatinya. Oleh karena itu, yang wajib dilakukan adalah
menyandarkan rezeki tersebut hanya kepada Allah l satu-satu-Nya dan
mensyukuri-Nya.
Rezeki Allah l kepada hamba-hamba-Nya ada dua macam, yaitu yang umum dan
yang khusus. Rezeki yang umum adalah Allah l menyampaikan segala
kebutuhan hidup mereka dan menjaga kelangsungan mereka. Oleh karena itu,
Allah l memudahkan jalan-jalan rezeki bagi mereka. Allah l pun
mengaturnya dalam jasad mereka, lalu menyampaikan makanan yang
dibutuhkan jasad ke anggota-anggota tubuh yang kecil maupun yang besar.
Rezeki yang umum ini mencakup orang yang baik maupun yang jahat, muslim
maupun kafir, bahkan juga meliputi manusia, jin, dan hewan. Allah l
berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Hud: 6)
Rezeki ini mungkin berupa sesuatu yang halal, yang tidak mengandung
dosa bagi hamba. Akan tetapi, mungkin pula berupa sesuatu yang haram
namun tetap disebut sebagai rezeki dari sisi ini2, yaitu disalurkannya
kepada anggota badan dan dijadikannya badan tersebut dapat mengambil
manfaat darinya, sehingga hal ini tetap bisa disebut rezeki dari Allah
l. Sama saja, baik dia mengambilnya dari yang halal maupun dari yang
haram. Yang seperti ini sekadar disebut rezeki (muthlaqur rizq).
Adapun yang kedua, (rezeki yang khusus) adalah rezeki yang mutlak
(yang sempurna), atau rezeki yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat.
Rezeki ini diperoleh melalui Rasulullah n dan terbagi menjadi dua.
1. Rezeki bagi kalbu, berupa ilmu dan iman serta hakikat keduanya,
karena kalbu sangat membutuhkan pengetahuan akan kebenaran dan
berkeinginan terhadapnya, serta ingin menghamba kepada Allah l. Dengan
rezeki ini akan tercukupi dan hilang rasa butuhnya (karena kalbu tidak
akan membaik, beruntung, dan merasa kenyang hingga mendapatkan ilmu
tentang hakikat yang bermanfaat dan aqidah yang benar, akhlak yang
mulia, serta bersih dari akhlak yang hina. Apa yang dibawa Rasul n
menjamin dua hal tersebut sesempurna-sempurnanya, dan tidak ada jalan
menuju kepadanya melainkan melalui jalan beliau n).
2. Rezeki bagi badan, berupa rezeki halal yang tidak mengandung dosa.
Allah l mencukupi hamba-Nya dengan rezeki yang halal sehingga tidak
membutuhkan yang haram. Allah l juga mencukupi hamba-Nya dengan
keutamaan-Nya sehingga tidak membutuhkan selain keutamaan-Nya.
Rezeki yang khusus untuk mukminin dan yang mereka minta dari-Nya adalah kedua macam rezeki tersebut.
Yang pertama adalah tujuan terbesar, sedangkan yang kedua adalah
sarana menuju kepadanya dan yang membantu dalam mewujudkannya. Bila
Allah l memberikan rezeki kepada seorang hamba berupa ilmu yang
bermanfaat, iman yang benar, rezeki yang halal, serta sifat qana’ah
(merasa cukup) dengan apa yang Allah l rezekikan, berarti segala
urusannya telah sempurna dan keadaannya telah lurus, baik sisi agama
maupun jasmaninya. Rezeki semacam inilah yang dipuji dalam nash-nash
(teks-teks) nabawi dan tercakup dalam doa-doa yang bermanfaat.
Oleh karena itu, bila berdoa kepada Rabbnya, seorang hamba semestinya
mengingat dalam kalbunya dua hal ini, sehingga bila dia mengatakan, ‘Ya
Allah, berikan kepadaku rezeki’, yang dia maksud adalah sesuatu yang
membuat kalbunya semakin baik, yaitu ilmu dan petunjuk, serta
pengetahuan dan iman; juga yang menjadikan jasmaninya baik, yaitu rezeki
yang halal, yang nikmat, yang tidak sulit, dan tidak mengandung dosa.
(Syarh Nuniyyah karya al-Harras, 2/110—111 dengan beberapa tambahan dari
Syarh al-Asma’ wash Shifat, kumpulan penjelasan as-Sa’di)
Buah Mengimani Nama Allah Ar-Razzaq
Dengan mengimani nama Allah l tersebut, kita mengetahui betapa
besarnya karunia Allah l dan betapa luasnya rezeki-Nya. Semua
makhluk-Nya: manusia, jin, dan hewan, Allah k berikan rezeki-Nya kepada
mereka tanpa kecuali. Lebih dari itu, Allah l mengkhususkan rezeki yang
besar di dunia dan akhirat untuk hamba-Nya yang bertakwa.
Tentu semua itu menuntut kita untuk selalu bersyukur atas
semuanya—rezeki iman dan amal, serta rezeki kebutuhan kita sehari-hari—,
tunduk kepada-Nya, memohon kepada-Nya, karena Dialah yang Mahakaya dan
Mahamampu, serta tidak memohon rezeki kepada selain Allah l, siapa pun
dia karena pada hakikatnya semuanya tidak memiliki apa pun. Justru
mereka juga mendapatkan rezeki dari Allah Yang Maha Pemberi Rezeki,
Ar-Razzaq.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar