Penulis : Winda Kustiawan, S.Sos.I,
MA
Hari
kemenangan telah disambut dan dirayakan secara suka cita, saatnya kita menatap
kedepan dalam menjalani aktivitas kehidupan sebelas bulan mendatang dengan
penuh kekuatan iman. Ramadan telah membekali hidup dengan segudang amal saleh
dan nilai spiritual. Namun kita sebagai manusia akan menghadapi banyak hambatan
dan ritangan dalam menjalani kehidupan ini. Sehingga manusia memiliki berbagai
macam bentuk urusan dan keperluan di dalam memenuhi setiap kebutuhan hidupnya,
mengoptimalkan iman dalam kehidupan itu sangat penting untuk menatap kehidupan
kedepan. Hampir setiap manusia di sibukkan dengan urusan dan keperluannya
tersebut. Dari urusan mencari nafkah atau rezeki, masalah keturunan, meminta
hujan untuk kesuburan lahan dan kemakmuran, urusan posisi kedudukan atau
jabatan, perebutan tender proyek, hingga urusan pribadi maupun kelompok. Guna
mewujudkan semua urusan tersebut terkadang manusia akan berusaha secara
maksimal. Pada dasarnya setiap manusia telah di berikan rahmat oleh Allah SWT.
Namun banyak manusia yang mengingkari nikmat tersebut atau lupa bersyukur akan
nikmat yang telah diberikan. Perhatikan firman Allah “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang
kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat
kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim : 34)”. Sebagai muslim yang beriman
dan taat kepada Allah cara yang terbaik dalam mewujudkan atau melapangkan
setiap urusan kehidupan ini dengan beristigfar. Karena dengan beristigfar
memohon ampunan kepada Allah, kita akan tetap kepada rahmat-Nya dan terhindar
sifat-sifat kesombongan.
Meliputi Diri Dengan Istighfar
Dari
Imam Al-Qurthubi menyebutkan kisah dari Ibnu Shabih bahwa suatu ketika
datanglah seorang laki-laki kepada Imam Hasan Al-Bashri untuk mengadukan
masalah kekeringan yang terjadi dengan kebunnya dan kegersangan daerahnya.
Hasan Al-Bashri hanya berkata: “Bersistigfarlah
kepada Allah”. Beberapa selang waktu berikutnya datanglah seorang
mengadukan kemarau panjang, kemudian Imam Hasan al-Bashri juga mengatakan “Beristigfarlah kepada Allah”. Dan tidak
lama kemudian juga datang orang mengadukan kepada Hasan al-Bashri bahwa dia
tidak memiliki keturunan. Lalu Hasan al-Bashri mengatakan “Beristigfarlah kepada Allah”. Kemudian Rabi bin Shabih berkata
pada Imam Hasan al-Bashri. “Sudah banyak
orang mendatangi anda dengan mengadukan berbagai bentuk urusan dan masalah
hidup, mengapa anda hanya menjawab “Beristigfarlah kepada Allah”. Lalu Imam
Hasan Al-Bashri menjawab “Aku tidak
mengatakan itu dariku tetapi Allah sendiri yang menyampaikan”. Mari kita
perhatikan firman Allah “Maka aku katakan
kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu (beristigfarlah), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula
di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh : 10-12).
Dengan
beristigfar kepada Allah, sesulit apapun manusia dalam menjalani kehidupannya
akan diberikan jalan keluar dan bahkan akan diberikan rezeki yang tidak
disangka-sangkanya. Nabi berkata “Barangsiapa membiasakan diri beristighfar, maka akan
memberinya jalan keluar setiap kali ia mengalami kesempitan, dan memberinya
hiburan setiap kali ia dirundung kesedihan, dan memberinya rezeqi dari arah yg
tidak diduga" (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad). Rezeki yang diberikan Allah bisa seperti harta benda,
rumah, mobil, jabatan, kedudukan, keturunan, lahan yang subur, kesehatan dan
masih banyak nikmat yang tidak bisa disebutkan yang Allah berikan kepada kita.
Namun kita harus tetap menjaga diri dari segala perbuatan yang dilarang
dan tidak disenangi Allah yang akan mendatangkan ahzab. Seperti berbuat
kemusrikan, berzinah, berjudi, mabuk, menyakiti orang lain dan segala bentuk
perbuatan kezaliman.
Kita
harus menjaga kualitas amal shaleh, seperti shalat lima waktu harus tetap di
jaga, jangan sampai kita lalai baik itu dari menjaga ketepatan waktu shalat, sabar
dan ikhlas menjalankannya. Bersedekah baik itu di waktu yang lapang maupun
waktu yang sempit. Karena setiap harta yang kita peroleh harus dibelanjakan
kepada jalan Allah. Lihat firman Allah “...dan
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS.
Al-Baqarah : 3). Selain shalat dan bersedekah yang harus tetap kita jaga
yaitu lisan kita. Karena dengan lisan manusia akan menjadi baik dan dengan
lisan pula manusia akan menjadi buruk, baik itu di mata Allah maupun di mata
manusia yang lainnya. Lisan kita menjadi baik apabila kita mampu menjaga
perkataan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain dengan berkata sopan dan
lemah lembut dan selalu dipergunakan untuk memuji dan mengagungkan kalimat
Allah. Namun sebaliknya akan menjadi buruk apabila lisan kita dipergunakan
untuk menyakiti orang lain dan tidak memuji Allah.
Beristigfar
juga dapat menghindarkan diri dari perbuatan keji dan kemungkaran. Mari kita
perhatikan firman Allah “Dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran : 135)”.
Dari ayat ini Allah mengingatkan kepada manusia, ketika akan melakukan
perbuatan keburukan dan kebatilan, supaya segera mengucapkan istigfar. Agar
perbuatan keburukan dan kebatilan yang akan kita lakukan tidak terjadi. Seperti
ketika manusia memiliki peluang untuk mencuri, korupsi dan berzina, berjudi,
dan melakukan suap menyuap,dan lain sebagainya, walaupun tidak ada niat namun
ada kesempatan untuk melakukannya. Disinilah segera kita mengingat Allah untuk
memohon ampun kepada-Nya dengan cara beristigfar. Agar perbuatan keji tersebut
tidak terjadi, dikarenakan kita segera mengingat Allah, dan muncul rasa takut
akan ahzab yang akan menimpa kita apabila perbuatan tersebut tetap dilakukan.
Apabila manusia takut dalam arti kepatuhan terhadap Allah, maka Allah akan
selalu membimbingnya dan tetap mengarahkan kepada jalan yang baik. Dan Allah
juga akan memberikan hidayah kepada setiap hamba-Nya yang benar-benar patuh
terhadap perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
Penutup
Ketika
kita tetap menjaga diri dengan memohon ampunan dengan beristigfar, maka rahmat
Allah akan selalu bersama kita. Dan Allah akan memudahkan setiap segala urusan
yang kita lakukan di dunia ini. Karena Dialah pemilik kehidupan dan alam
semesta ini. Dan Dialah Allah yang mengatur setiap rezeki setiap mahluknya,
walau hewan sekecil apapun. Untuk itu agar rahmat Allah tetap kita peroleh dan
raih, ingatlah Allah di manapun kita berada, baik itu susah, dan senang, baik
itu sendiri maupun dikeramaian dan disaat sehat maupun sakit. Mudah-mudahan
kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga lisan ini tetap memuji Allah dan
memohon ampunan kepada-Nya. Karena sebaik-baik manusia adalah menjadikan Allah
sebagai penolong dan pemberi rahmat, bukan yang lain. Wallahu’alam
(Penulis adalah Dosen Jurnalistik Radio,
Televisi dan Film pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SU)
Tulisan ini telah diterbitkan oleh Harian Analisa pada 08 Agustus 2014, atau dapat melihat alamat dibawah ini :
http://analisadaily.com/news/read/mengoptimalkan-iman-dalam-kehidupan/52922/2014/08/08
Tidak ada komentar:
Posting Komentar