Senin, 11 Agustus 2014

MENGOPTIMALKAN IMAN DALAM KEHIDUPAN

Penulis : Winda Kustiawan, S.Sos.I, MA
Hari kemenangan telah disambut dan dirayakan secara suka cita, saatnya kita menatap kedepan dalam menjalani aktivitas kehidupan sebelas bulan mendatang dengan penuh kekuatan iman. Ramadan telah membekali hidup dengan segudang amal saleh dan nilai spiritual. Namun kita sebagai manusia akan menghadapi banyak hambatan dan ritangan dalam menjalani kehidupan ini. Sehingga manusia memiliki berbagai macam bentuk urusan dan keperluan di dalam memenuhi setiap kebutuhan hidupnya, mengoptimalkan iman dalam kehidupan itu sangat penting untuk menatap kehidupan kedepan. Hampir setiap manusia di sibukkan dengan urusan dan keperluannya tersebut. Dari urusan mencari nafkah atau rezeki, masalah keturunan, meminta hujan untuk kesuburan lahan dan kemakmuran, urusan posisi kedudukan atau jabatan, perebutan tender proyek, hingga urusan pribadi maupun kelompok. Guna mewujudkan semua urusan tersebut terkadang manusia akan berusaha secara maksimal. Pada dasarnya setiap manusia telah di berikan rahmat oleh Allah SWT. Namun banyak manusia yang mengingkari nikmat tersebut atau lupa bersyukur akan nikmat yang telah diberikan. Perhatikan firman Allah “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim : 34)”. Sebagai muslim yang beriman dan taat kepada Allah cara yang terbaik dalam mewujudkan atau melapangkan setiap urusan kehidupan ini dengan beristigfar. Karena dengan beristigfar memohon ampunan kepada Allah, kita akan tetap kepada rahmat-Nya dan terhindar sifat-sifat kesombongan.
Meliputi Diri Dengan Istighfar
Dari Imam Al-Qurthubi menyebutkan kisah dari Ibnu Shabih bahwa suatu ketika datanglah seorang laki-laki kepada Imam Hasan Al-Bashri untuk mengadukan masalah kekeringan yang terjadi dengan kebunnya dan kegersangan daerahnya. Hasan Al-Bashri hanya berkata: “Bersistigfarlah kepada Allah”. Beberapa selang waktu berikutnya datanglah seorang mengadukan kemarau panjang, kemudian Imam Hasan al-Bashri juga mengatakan “Beristigfarlah kepada Allah”. Dan tidak lama kemudian juga datang orang mengadukan kepada Hasan al-Bashri bahwa dia tidak memiliki keturunan. Lalu Hasan al-Bashri mengatakan “Beristigfarlah kepada Allah”. Kemudian Rabi bin Shabih berkata pada Imam Hasan al-Bashri. “Sudah banyak orang mendatangi anda dengan mengadukan berbagai bentuk urusan dan masalah hidup, mengapa anda hanya menjawab “Beristigfarlah kepada Allah”. Lalu Imam Hasan Al-Bashri menjawab “Aku tidak mengatakan itu dariku tetapi Allah sendiri yang menyampaikan”. Mari kita perhatikan firman Allah “Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu (beristigfarlah),  sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh : 10-12).
Dengan beristigfar kepada Allah, sesulit apapun manusia dalam menjalani kehidupannya akan diberikan jalan keluar dan bahkan akan diberikan rezeki yang tidak disangka-sangkanya. Nabi berkata Barangsiapa membiasakan diri beristighfar, maka akan memberinya jalan keluar setiap kali ia mengalami kesempitan, dan memberinya hiburan setiap kali ia dirundung kesedihan, dan memberinya rezeqi dari arah yg tidak diduga" (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad). Rezeki yang diberikan Allah bisa seperti harta benda, rumah, mobil, jabatan, kedudukan, keturunan, lahan yang subur, kesehatan dan masih banyak nikmat yang tidak bisa disebutkan yang Allah berikan kepada kita. Namun kita harus tetap menjaga diri dari segala perbuatan yang dilarang dan tidak disenangi Allah yang akan mendatangkan ahzab. Seperti berbuat kemusrikan, berzinah, berjudi, mabuk, menyakiti orang lain dan segala bentuk perbuatan kezaliman.
Kita harus menjaga kualitas amal shaleh, seperti shalat lima waktu harus tetap di jaga, jangan sampai kita lalai baik itu dari menjaga ketepatan waktu shalat, sabar dan ikhlas menjalankannya. Bersedekah baik itu di waktu yang lapang maupun waktu yang sempit. Karena setiap harta yang kita peroleh harus dibelanjakan kepada jalan Allah. Lihat firman Allah “...dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. Al-Baqarah : 3). Selain shalat dan bersedekah yang harus tetap kita jaga yaitu lisan kita. Karena dengan lisan manusia akan menjadi baik dan dengan lisan pula manusia akan menjadi buruk, baik itu di mata Allah maupun di mata manusia yang lainnya. Lisan kita menjadi baik apabila kita mampu menjaga perkataan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain dengan berkata sopan dan lemah lembut dan selalu dipergunakan untuk memuji dan mengagungkan kalimat Allah. Namun sebaliknya akan menjadi buruk apabila lisan kita dipergunakan untuk menyakiti orang lain dan tidak memuji Allah.
Beristigfar juga dapat menghindarkan diri dari perbuatan keji dan kemungkaran. Mari kita perhatikan firman Allah “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran : 135)”. Dari ayat ini Allah mengingatkan kepada manusia, ketika akan melakukan perbuatan keburukan dan kebatilan, supaya segera mengucapkan istigfar. Agar perbuatan keburukan dan kebatilan yang akan kita lakukan tidak terjadi. Seperti ketika manusia memiliki peluang untuk mencuri, korupsi dan berzina, berjudi, dan melakukan suap menyuap,dan lain sebagainya, walaupun tidak ada niat namun ada kesempatan untuk melakukannya. Disinilah segera kita mengingat Allah untuk memohon ampun kepada-Nya dengan cara beristigfar. Agar perbuatan keji tersebut tidak terjadi, dikarenakan kita segera mengingat Allah, dan muncul rasa takut akan ahzab yang akan menimpa kita apabila perbuatan tersebut tetap dilakukan. Apabila manusia takut dalam arti kepatuhan terhadap Allah, maka Allah akan selalu membimbingnya dan tetap mengarahkan kepada jalan yang baik. Dan Allah juga akan memberikan hidayah kepada setiap hamba-Nya yang benar-benar patuh terhadap perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
Penutup
Ketika kita tetap menjaga diri dengan memohon ampunan dengan beristigfar, maka rahmat Allah akan selalu bersama kita. Dan Allah akan memudahkan setiap segala urusan yang kita lakukan di dunia ini. Karena Dialah pemilik kehidupan dan alam semesta ini. Dan Dialah Allah yang mengatur setiap rezeki setiap mahluknya, walau hewan sekecil apapun. Untuk itu agar rahmat Allah tetap kita peroleh dan raih, ingatlah Allah di manapun kita berada, baik itu susah, dan senang, baik itu sendiri maupun dikeramaian dan disaat sehat maupun sakit. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga lisan ini tetap memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. Karena sebaik-baik manusia adalah menjadikan Allah sebagai penolong dan pemberi rahmat, bukan yang lain. Wallahu’alam
(Penulis adalah Dosen Jurnalistik Radio, Televisi dan Film pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SU)
Tulisan ini telah diterbitkan oleh Harian Analisa pada 08 Agustus 2014, atau dapat melihat alamat dibawah ini :
http://analisadaily.com/news/read/mengoptimalkan-iman-dalam-kehidupan/52922/2014/08/08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar