Penulis : Winda
Kustiawan, S.Sos.I, MA
Tinggal beberapa hari lagi kedepan seluruh rakyat Indonesia akan menggelar pesta akbar dalam memilih pemimpin lima tahun kedepan. Dari pemilihan anggota legeslatif tingkat daerah kabupaten/kota, provinsi dan pusat untuk periode 2014-2019. Kemudian akan dilanjutkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Banyak sekali harapan-harapan masyarakat Indonesia menginginkan perubahan pada aspek kepemimpinan yang mampu merubah keadaan bangsa kearah yang lebih baik. Dari penuntasan kasus korupsi, yang sampai saat ini seolah-olah tidak kunjung selesai dan terkesan semakin tersistematis. Kesejahteraan ekonomi masyarakat kian hari semakin memprihatinkan yaitu kebutuhan harga bahan pokok rumah tangga naik tidak karuh-karuan dan tidak terkedali dipasaran, padahal Indonesia tanah yang subur dan kaya akan sumber daya alam yang melimpah. Tapi beras, kedelai, buah-buahan dan kebutuhan pokok lainnya masih menginpor dari negara luar. Belum lagi tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tidak pernah surut dinegri ini, menurut salah satu media online yang dapat dipercaya mengatakan bahwa tingkat angka kemiskinan setiap tahun semakin meningkat, untuk tahun 2013 ini angka kemiskinan mencapai 11,37 % atau sama dengan 28,07 Juta orang dari total keseluruhan penduduk Indonesia. Sementara pengangguran terbuka meningkat menjadi 150 ribu orang atau 0,11 persen dari 7,24 juta orang (6,14 persen) pada Agustus 2013.
Fenomena di atas yang terjadi di negeri ini adalah segelintir dari masalah yang ada, namun dibutuhkan penanganan yang sangat serius dari para calon pemimpin kedepan. Untuk itu kita harus menyongsong pemimpin yang benar-benar memperhatikan nasib rakyatnya, yang mampu menangani permasalahan bangsa yang sangat rumit ini. Untuk itu pemimpin yang tepat adalah pemimpin yang qurani yaitu mampu menginspirasi hidupnya dan orang lain dari alquran agar tercapai tujuan yang mulia yaitu dunia akhirat. Salin itu juga mampu menampilkan sosok kesederhanaan, mulia akhlaknya dengan memberikan contoh keteladanan yang nyata, jauh dari tindakan memperkaya diri dengan jalan korupsi, tidak mementingkan diri sendiri, kelurga, dan juga kelompoknya dan dapat berbagi serta membatu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orang lain. Perhatikan firman Allah “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2 : 207). Allah akan memberikan apresiasi yang sangat baik kepada para pemimpin di dunia ini dengan diberikan keteguhan dalam hidup, apabila selalu menjaga konsisten dalam menjalankan aturan-Nya (lihat QS. 22:41).
Umar bin Abdul Aziz pemimpinan Qurani
Selain Muhammad dan khalifaurrasyidin sebagai sosok seorang pemimpin yang qurani dan memang benar-benar teruji pada masanya. Kita juga dapat melihat contoh pemimpin yang sangat qurani yaitu Umar bin Abdul Aziz, beliau mewarisi karakter kepemimpinan kakeknya yaitu Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz dikenal dengan sosok kesederhanaannya dan banyak meninggalkan kemegahan duniawi, berbeda dengan kepemimpinan daulah Umayyah sebelumnya yang hanya memperkaya diri sendiri. Sehingga beliau juga di kagumi oleh kelompok seluruh rakyatnya dan bahkan kelompok khawarij. Ada beberapa peristiwa yang sangat menarik perhatian kita bersama, ketika beliau setelah dilantik menjadi khalifah ditawari untuk memilih kuda terbaik dari kerajaan. Untuk digunakan beliau dalam menjalankan pemerintahannya selama menjabat, namun beliau menolaknya. Malah beliau menyuruh agar kuda-kuda tersebut dilelang dan hasil lelangnya diberikan kebaitul mal untuk dipergunakan demi kepentingan rakyat. Dan Umar bin Abdul Aziz hanya menggunakan kuda milik pribadinya yang sangat sederhana dalam menjalankan kepemimpinannya. Di masa kepemimimpinan beliau juga pernah meyuruh istrinya agar mengembalikan harta yang telah diberikan oleh ayahnya untuk kepentingan rakyat. Beliau juga menyuruh kepada para pejabat negara agar mewakafkan harta mereka kebaitul mal untuk kepentingan rakyat (sumber Dr.H.M.Yakub, MA dosen sejarah IAIN SU). Kenyataan ini sangat berbanding terbalik dan sangat jauh berbeda dengan kondisi kepemimpinan bangsa kita saat ini, para pejabat negara dan anggota dewan dari pusat sampai daerah malah bangga sekali menggunakan fasilitas negara. Dan bahkan kalau bisa mobil yang digunakan baru, mewah dan biaya minyak serta perbaikan dari uang negara. Padahal uang yang dipergunakan itu dari pajak yang di berikan oleh rakyat untuk negara, yang seyogianya untuk kemaslahatan rakyat. Sebenarnya pemimpin kita harus malu apabila melihat dari sosok kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Selalu menuntut fasilitas kendaraan mewah, rumah elit, biaya perjalanan dan gaji mahal sementara kinerja yang mereka tunjukkan tidak terlalu berdampak nyata kepada rakyat.
Menjadi Pemimpin Qurani
Untuk menjadi pemimpin yang qurani maka kita harus memperhatikan beberapa aspek penting yaitu pertama seorang pemimpin itu menjadikan alquran sebagai sumber petunjuk dalam menjalankan kepemimpinan. Artinya pemimpin itu mampu mentaati perintah Allah dan rasul-Nya dari setiap aspek kehidupannya. Terutama dari aspek sikap dan perilaku sehari-hari, paling tidak shalat selalu dijaganya. Karena dengan shalat manusia dapat terhindar dari perbuatan keji dan kemungkaran (QS. Al-Ankabut : 45). Kita merindukan pemimpin yang selalu mengisi waktu-waktunya untuk menjalankan shalat secara berjama’ah di masjid. Selain memimpin rayat pada level pemerintahan kita sangat kesulitan saat ini mencari sosok figur pemimpin yang mampu memimpin jama’ah dalam shalat, walaupun tidak menutup kemungkinan juga ada sebahagian pemimpin sudah berbuat seperti itu. Kedua seorang pemimpin harus memiliki niat yang lurus dalam menjalankan amanah kepemimpinannya. Nabi pernah mengingatkan kepada “sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya” (hadis). Ketika kita ingin menjadi seorang pemimpin maka perlu diluruskan niatnya, apakah kita sudah siap mengorbankan diri, keluarga, harta, anak dan waktu untuk melayani masyarakat, seperti khalifah Umar bin Abdul Aziz yang telah mengorbankan hidupnya untuk agama dan negara demi keridhaan Allah, terinspirasi dari firman Allah QS. Al-An’am 162. Ketiga seorang pemimpin harus memiliki komitmen kejujuran, amanah dan sikap yang keadilan. Sikap transparansi dalam memimpin suatu bangsa itu sangat diperlukan, karena tidak seorang pun di dunia ini ingin dibohongi dalam hal sekecil apapun. Dari pembelanjaan uang negara dan biaya operasional penyelenggaraan negara harus benar-benar diperuntukkan kepada rakyat secara transparan. Sekiranya manusia didunia ini bisa berdusta di hadapan manusia yang lain, namun tidak pada Allah karena nanti mulut akan ditutup Allah dan tangan, kaki serta anggota tubuh kita lainnya akan bersaksi atas apa yang sudah kita lakukan di dunia ini (lihat QS. Yasin : 65). Selain itu Allah juga menyeruh kepada manusia berbuat amanah dipermukaan dunia ini (QS. 4 : 58) dan berbuat adil dalam menjalankan amanah kepemimpinannya (QS. 5 : 8). Ketika hal ini dapat di semat kan dalam setiap jiwa calon pemimpin negeri ini mudah-mudahan negera Indonesia akan terwujud menjadi Baldatun Toyibatun Warobbun Ghoffur (negeri yang baik, makmur, sejahterah dan diridhoi Allah).
Semoga kedepan kita dapat menyongsong kepemimpinan yang qurani terwujud di negeri ini. Sehingga negara yang kaya dengan sumber daya alamnya dan pemimpin yang berjiwa qurani dapat mensejahterakan rakyatnya. Sesuai dengan ungkapan Mahatma Gandhi “Sumberdaya alam negeri ini dapat mensejahterakan seluruh rakyat, namun tidak untuk satu orang yang serakah dan tamak”. Wallahu’alam.
(Penulis
adalah Dosen Jurnalistik Radio, Televisi dan Film pada Fakultas Dakwah dan
Komunikasi Islam IAIN SU)
Tulisan ini telah diterbitkan oleh Harian Analisa pada Jum'at 21 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar